TVRINews, Nagekeo
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani melaporkan perkembangan terkini pascabencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Kabupaten Nagekeo, Rabu, 26 Agustus 2026.
Dalam laporannya, BMKG mengonfirmasi bahwa frekuensi aktivitas gempa susulan di wilayah tersebut kini terus menunjukkan tren peluruhan hingga diperkirakan bakal kembali normal dalam kurun waktu kurang dari 20 hari ke depan.
Kepala BMKG menjelaskan bahwa hingga hari ke-12 pascagempa utama, tercatat ribuan kali getaran susulan namun intensitasnya terus menurun.
"Kemudian ada 7.492 gempa total, sampai dengan hari ke-12 ini, per jam 5 pagi tadi, dan dalam 3 hari terakhir juga menunjukkan peluruhan. Kalau gempa enam skala liter, umumnya dalam 2-3 minggu dia akan meluruh atau kembali dalam kondisi normal, tapi ini dibutuhkan 3-4 minggu. Jadi kurang lebih, kurang dari 20 hari dari sekarang, tadi Pak Gubernur menanyakan, itu gempa akan kembali dalam posisi normal, sehingga masyarakat dapat lebih optimal lagi dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari," tutur Teuku Faisal Fathani.
Ia juga menekankan keberhasilan pengoperasian protokol internasional peringatan dini tsunami saat guncangan gempa utama terjadi di bagian utara Pulau Flores, sehingga berhasil menyelamatkan warga dari dampak risiko fatal.
"Ketika gempa, kami melaksanakan protokol internasional. Jadi tepat dua menit enam belas detik, BMKG mengumumkan ke semua kanal, semua media, sehingga masyarakat dapat mengambil tindakan penyelamatan sebelum tsunami terjadi. Tsunami sendiri terjadi di beberapa lokasi, terutama di bagian utara dari Pulau Flores ini. Sampai dengan ketinggian 2,5 meter, tapi tidak ada korban sama sekali, Pak Presiden," jelasnya.
Sistem sensor yang terpasang di wilayah NTT terbukti bekerja optimal dalam meminimalkan dampak jika dibandingkan dengan peristiwa gempa besar masa lalu.
"Ini merupakan hal yang baik dibanding dengan kejadian yang sama tahun 1992. 7,8 magnitude, kedalaman 32 kilometer, itu korbannya sampai 2.000 orang, khususnya karena tsunami. Nah, jadi karena kita sekarang memiliki 2.000 aloptama sensor terkait kegempaan, di mana 175 ada di provinsi ini, itu membuat kita dapat memberikan warning yang baik pada masyarakat," kata Teuku Faisal Fathani.
BMKG bersama jajaran pemerintah daerah dan Forkopimda terus menenangkan masyarakat terkait maraknya rumor tak berdasar mengenai gempa besar susulan maupun potensi tsunami susulan.
"Terkait kekhawatiran masyarakat ada isu akan terjadi gempa yang besar dalam beberapa hari, dan akan terjadinya tsunami lagi. Nah, ini kami terus-menerus mendampingi Forkopimda, Pak Gubernur juga, para bupati menyampaikan bahwa diperlukan puluhan tahun untuk dapat mengumpulkan energi, melepaskan gempa yang sebesar 7,7 itu. Jadi perlu waktu yang cukup panjang, sehingga pelepasan yang sedikit demi sedikit ini sebenarnya baik untuk merilis atau melepaskan energi tersebut," terangnya.
Pendampingan oleh personel BMKG di lapangan berhasil memberikan rasa aman sehingga sebagian warga dengan kondisi rumah rusak ringan sudah mulai kembali dari pengungsian.
"Dan di sini, kami juga memberikan pembelajaran ke masyarakat, memberi pemahaman, karena masyarakat khawatir sekali, sampai staf BMKG ditahan di posko-posko agar mereka merasa nyaman, tenang, takut ada gempa susulan dan sebagainya. Nah sekarang sudah mulai kembali ke rumah," lanjutnya.
Keberhasilan Indonesia dalam merespons cepat potensi bencana membuat sistem kebencanaan BMKG dijadikan acuan oleh negara-negara tetangga di kawasan Pasifik dan Asia Tenggara.
"Satu hal lagi Pak Presiden, bahwa kondisi di Nusa Tenggara Timur ini terancam akan bencana siklon tropis, kekeringan, dan juga gempa. Sehingga hari ini, jam 1 siang, Menteri Perhubungan dari Timur Leste beserta jajaran itu datang ke kantor BMKG ingin mendapatkan support dari Indonesia untuk dapat memperkuat meteorologi, klimatologi, dan geofisika di Timur Leste," ucap Kepala BMKG.
Ia menyampaikan bahwa BMKG siap menempatkan personel guna mendukung sistem pemantauan di kawasan regional secara berkelanjutan.
"Tidak hanya Timur Leste, tapi di negara-negara Oceania seperti Fiji, Songa, itu kita juga mendukung karena BMKG sudah lebih advance di bidang penanganan bencana dan pemantauannya. Ini saya kira hal yang baik bahwa pembelajaran dari Indonesia sangat banyak terkait bencana, sehingga negara-negara sekitar juga ingin belajar tentang itu. Demikian Pak Presiden," pungkas Kepala BMKG.










