TVRINews – Puncak Jaya, Papua
Satgas Yonif 715/Motuliato tak hanya menjaga keamanan, tapi juga merawat kemanusiaan lewat kebersamaan di meja makan bersama warga Puncak Jaya.
Di tengah dinginnya udara pegunungan Papua, kehangatan justru hadir lewat sepiring nasi dan senyum kebersamaan. Jumat (16/5/2025), suasana berbeda terasa di Kampung Tinolok, Distrik Yambi. Bukan patroli bersenjata atau apel militer yang mendominasi, melainkan aroma lauk pauk dan tawa anak-anak yang menyambut para prajurit Satgas Yonif 715/Motuliato Pos Ramil Yambi.
Dalam semangat Jumat Berkah, prajurit TNI bersama warga berkumpul di depan Gereja Mando untuk satu tujuan sederhana namun penuh makna: makan bersama. Sebuah tradisi kecil yang menyimpan harapan besar—tentang kedekatan, kepercayaan, dan perdamaian.
Baca Juga: Korupsi Bedah Rumah di Sumenep, Menteri PKP Minta Jaksa Usut
“Kami ingin lebih dari sekadar hadir sebagai penjaga wilayah. Kami ingin menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Papua,” ujar Lettu Inf Randa Noor, Danpos Ramil Yambi, dengan tatapan tulus.
Warga menyambut hangat inisiatif tersebut. Eton Talenggen (51), gembala Gereja Mando, menyeka matanya haru. “Biasanya tentara datang jaga, sekarang duduk makan sama-sama. Hati saya senang,” katanya dengan logat khas Papua yang mengalir apa adanya.
Momentum ini bukan hanya tentang nasi dan lauk di atas piring. Ini tentang keberanian membangun kedekatan tanpa sekat, tentang keamanan yang tumbuh dari kepercayaan, bukan hanya kewaspadaan.
Di tempat seperti Puncak Jaya, yang selama ini kerap diberitakan lewat konflik, justru cerita-cerita kemanusiaan seperti ini yang layak diperbincangkan. Karena perdamaian seringkali dimulai dari hal-hal yang sederhana seperti makan bersama di hari Jumat.










