TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan. Komitmen tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat saat menghadiri kegiatan Gerak Bersama Anak Indonesia 2026 yang diselenggarakan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di Jakarta, Minggu, 19 Juli 2026.
Mengusung tema "Membangun Budaya Sekolah Aman, Nyaman, dan Bebas Kekerasan", kegiatan ini mempertemukan berbagai unsur, mulai dari kementerian dan lembaga, satuan pendidikan, keluarga, dunia usaha, media, organisasi masyarakat sipil, hingga anak-anak sebagai subjek utama perlindungan.
Dalam kesempatan itu, Atip menegaskan bahwa setiap anak berhak memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas di lingkungan belajar yang aman dan mendukung tumbuh kembang mereka.
"Kami ingin memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh pendidikan yang bermutu dan berkualitas," ujar Atip dalam keterangan yang diterima tvrinews, Minggu, 19 Juli 2026.
Menurut Atip, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di kelas, tetapi juga oleh terciptanya suasana sekolah yang membuat peserta didik merasa aman, dihargai, dan mampu berkembang secara optimal. Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus memperkuat berbagai kebijakan yang mendorong terwujudnya budaya sekolah ramah anak.
Beberapa program yang dijalankan antara lain Gerakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, Gerakan Rukun Sama Teman, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah, serta Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Melalui berbagai program tersebut, peserta didik didorong membiasakan perilaku positif sejak dini, seperti bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, gemar belajar, aktif bermasyarakat, hingga tidur lebih awal sebagai bagian dari pembentukan karakter.
Selain itu, Kemendikdasmen juga meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan melalui pelatihan konseling, baik bagi guru Bimbingan dan Konseling (BK) maupun guru non-BK, agar mampu memberikan pendampingan yang lebih optimal kepada peserta didik.
Usai kegiatan, Atip kembali mengajak seluruh pihak untuk memperkuat sinergi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan inklusif.
"Kami mengimbau seluruh satuan pendidikan untuk segera melaksanakan dan mengawal gerakan sekolah yang berbasis pada lingkungan yang aman dan nyaman,"ucapnya.
Rangkaian Gerak Bersama Anak Indonesia 2026 diawali dengan kegiatan Fun Walk yang melibatkan anak dan keluarga, dilanjutkan dialog lintas kementerian dan lembaga, pembacaan Deklarasi Gerak Bersama Anak Indonesia 2026, serta pemutaran film edukatif Children of Heaven.
Melalui deklarasi tersebut, seluruh peserta menegaskan komitmen untuk mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak dalam setiap kebijakan, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta mewujudkan satuan pendidikan yang bebas dari kekerasan, perundungan, dan diskriminasi.
Bagi Kemendikdasmen, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang yang melindungi, memberdayakan, dan mendukung setiap anak Indonesia agar tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, sehat, dan siap menghadapi tantangan masa depan.










