TVRINews, Jakarta
Anggota Komisi VII DPR RI, Putra Nababan, menegaskan bahwa potensi pelaku usaha di Jakarta Timur sangatlah besar. Namun, ia menyayangkan masih banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjalankan bisnisnya dengan gaya lama atau hanya bermodal nekat tanpa dibekali strategi yang matang.
Hal tersebut disampaikan Putra saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk Literasi Bisnis: Strategi Pengembangan Kewirausahaan Industri Pariwisata Berbasis Kelokalan yang digelar di Jakarta Timur, Senin (20/4).
“Kita punya Condet dengan wangi parfumnya, Jatinegara dengan kuliner legendanya. Sayangnya, kita sering cuma sekadar jualan. Lewat melek bisnis, kita ingin peracik parfum tidak cuma jual parfum, tapi jual cerita di balik aromanya. Wisatawan zaman sekarang itu nyari pengalaman yang jujur, bukan yang dibuat-buat,” ujar Putra di hadapan para peserta Bimtek.
Menurut Putra, literasi bisnis sebenarnya sederhana, yakni bagaimana pelaku usaha pintar bercerita atau storytelling mengenai keunikan usahanya sendiri. Ia mencontohkan pengrajin batik di Ciracas atau Pulo Gadung harus mampu menjual filosofi di balik setiap motifnya agar memiliki nilai lebih di mata wisatawan.
“Kita ingin memastikan yang tumbuh bukan cuma industrinya secara statistik, tapi juga kesejahteraan pelakunya. Kita ubah identitas lokal Jakarta Timur menjadi daya saing global,” tambahnya.
Selain strategi pemasaran, masalah permodalan yang kerap menjadi kendala juga dibahas dalam pertemuan tersebut. Putra memperkenalkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai solusi untuk mempercepat laju bisnis tanpa harus menjadi beban cicilan yang menakutkan bagi pelaku usaha.
“Bunganya rendah, syaratnya juga gak ribet, asal punya izin usaha (NIB) dan usahanya beneran jalan. Jadi, jangan biarkan ide bagus mati cuma gara-gara tidak punya modal,” tambahnya.
Di sisi lain, para peserta juga diingatkan agar bisnis pariwisata tidak membuat mereka melupakan isu ketahanan pangan. Mengingat kondisi krisis pangan global, para pelaku UMKM diajak untuk berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri sesuai pesan yang sering ditekankan oleh Megawati Soekarnoputri.
“Apalah artinya tempat wisata bagus kalau rakyatnya masih cemas soal makan? Jangan biarin sejengkal tanah pun di halaman menganggur,” tegasnya.
Peserta diajak mulai memanfaatkan lahan dengan menanam tanaman pendamping beras seperti singkong, ubi, jagung, hingga talas. Selain menjadi cadangan pangan mandiri, langkah ini dinilai dapat menjadi daya tarik agrowisata kota yang unik sehingga Jakarta Timur dapat menjadi lumbung pangan yang kuat.










