TVRINews – Pangkajene, Sulawesi Selatan
Dari Keterbatasan Ekonomi ke Ruang Kelas, Seorang Ibu di Sulawesi Berjuang Memberikan Pendidikan Layak demi Kehidupan Putrinya.
Di sebuah sudut Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, kehidupan seorang bocah berusia 10 tahun, Citra Nur Rahmadani, mencerminkan potret realitas perjuangan keluarga prasejahtera di Indonesia.
Namun, di balik narasi kemiskinan dan kehilangan, terselip optimisme yang tumbuh dari bangku Sekolah Rakyat Terintegrasi 67.
Citra, yang sempat terpuruk akibat perundungan di sekolah dan duka mendalam pasca-kepergian sang ayah, kini perlahan menapaki masa depan yang lebih cerah. Bagi ibunya, Hajrah, pendidikan bukan sekadar akses akademik, melainkan jembatan untuk memutus rantai kesulitan yang selama ini ia pikul seorang diri.
Sebelum menemukan lingkungan sekolah yang mendukung, masa kecil Citra harus dikorbankan demi membantu ekonomi keluarga. Ia sempat menghabiskan waktu luangnya dengan menjajakan kacang, alih-alih menikmati waktu bermain layaknya anak-anak seusianya.
“Citra itu waktu meninggal bapaknya sedih, karena dia lengket sama bapaknya,” ujar Hajrah dalam sebuah wawancara dengan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Rabu 12 Agustus 2026.
Kehilangan sosok ayah memaksa Hajrah menjadi tulang punggung keluarga tunggal. Kesehariannya dihabiskan dengan bekerja sebagai petugas kebersihan di masjid, dilanjutkan dengan menjadi buruh rumah tangga. Ia mengaku bahwa perjuangan untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan ekonomi sering kali terasa menyesakkan. “Sakit karena kita sendiri cari uang,” tambahnya dengan nada getir.
Transformasi melalui Pendidikan
Kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi 67 menjadi titik balik bagi perkembangan psikologis dan akademis Citra. Lingkungan yang inklusif di sekolah tersebut membantu Citra memulihkan kepercayaan dirinya yang sempat hilang akibat perundungan.
Hajrah mengamati perubahan signifikan pada putrinya. Citra kini dikenal lebih mandiri, disiplin dalam menjalankan ibadah, serta memiliki motivasi belajar yang tinggi. “Citra itu masuk sekolah rakyat, rajin belajar, rajin salat. Saya bangga sekali dia masuk di sekolah rakyat itu,” ungkap Hajrah.
Bagi sang ibu, melihat putrinya tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh adalah pencapaian emosional yang luar biasa. Ia menyadari bahwa pendidikan adalah bekal paling krusial untuk memastikan anaknya tidak terjebak dalam siklus kesulitan hidup yang sama.
“Citra harus lebih sukses, tidak kayak Mama,” ucap Hajrah, sebuah harapan yang sarat akan makna bagi masa depan anaknya.
Di sisi lain, Citra secara emosional mengakui peran besar ibunya dalam menjaga keutuhan keluarga. Dalam momen yang penuh haru, Citra menyampaikan rasa terima kasihnya,
“Mama, terima kasih karena telah membesarkan kami, menjaga kami semenjak kepergian Bapak. Saya sangat berterima kasih kepada Mama atas perjuangan Mama. Terima kasih, Mama. Aku sayang Mama.”
Kisah Citra dan Hajrah menjadi pengingat bagi publik mengenai pentingnya akses pendidikan yang merata dan dukungan lingkungan bagi anak-anak di tengah tantangan ekonomi yang berat.










