TVRINews, Jakarta
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya mendorong pengembangan tenun Nusantara tidak hanya sebagai upaya pelestarian budaya, tetapi juga sebagai bagian dari penguatan nilai ekonomi dan kesejahteraan perajin.
Hal tersebut disampaikan Riefky saat membuka Weaving Archipelago, bagian dari rangkaian Glorify Indonesia 2026, di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.
Riefky mengapresiasi kolaborasi Senayan City dan Cita Tenun Indonesia (CTI) yang menghadirkan kekayaan tenun Nusantara melalui pendekatan fesyen, desain, dan gaya hidup kontemporer.

"Tenun itu sebetulnya sudah lama, kemudian para desainer juga mendesainnya dengan segala kreativitas. Tetapi harus kita dukung, harus kita tampilkan terus agar nilai ekonominya terus berkembang. Ketika nilai ekonominya berkembang, tentu harapan kita semua termasuk para perajinnya juga semakin sejahtera," kata Riefky dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Kamis, 13 Agustus 2026.
Menurutnya, kehadiran tenun di ruang publik seperti pusat perbelanjaan dapat memperluas jangkauan pengenalan karya para perajin kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Pemerintah, lanjut Riefky, melihat pengembangan tenun sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang perlu didukung melalui penguatan talenta, pengembangan desain, perlindungan kekayaan intelektual, hingga perluasan akses pasar.
"Yang kita lakukan di sini tentu kita semua tidak hanya menjaga budaya, tetapi bagaimana memberikan nilai ekonomi. IP-nya, desainnya juga harus segera kita sertifikasi ke Kementerian Hukum sehingga tidak dibajak, sehingga originalitasnya, nilai keekonomiannya, pelindungannya itu tetap kita lakukan bersama-sama," ujarnya.
Weaving Archipelago merupakan kolaborasi Senayan City dan CTI yang berlangsung pada 12–29 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari perayaan 20 tahun Senayan City sekaligus menghadirkan tenun Nusantara di ruang publik.
Rangkaian kegiatan meliputi Tenun Display, CTI Journey, instalasi alat tenun tradisional, live weaving demonstration, pertunjukan budaya, talkshow, workshop, hingga styling session.
Riefky berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai pameran, tetapi mampu menjadi ruang pertemuan bagi perajin, desainer, pelaku usaha, masyarakat, dan berbagai mitra untuk menciptakan kolaborasi baru.
"Saya berharap Weaving Archipelago tidak hanya menjadi sebuah pameran, tetapi juga menjadi ruang lahir kolaborasi baru, membuka peluang usaha, memperkuat jenama lokal, dan membawa tenun Indonesia semakin mendunia," ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal CTI Intan Fauzi mengatakan Weaving Archipelago menjadi bagian dari perjalanan CTI dalam memperkenalkan tenun Indonesia melalui ruang kolaborasi dan pemasaran.
CTI yang berdiri sejak 28 Agustus 2008 selama ini berfokus pada pelestarian, pelatihan dan pengembangan perajin, serta pemasaran tenun Indonesia. Hingga kini, CTI telah membina perajin di 28 kabupaten/kota pada 14 provinsi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas perajin serta memperluas pasar tenun Indonesia.










