TVRINews, Yogyakarta
Melalui forum di Universitas Gadjah Mada, pemerintah menempatkan kebudayaan sebagai infrastruktur utama untuk membangun kepercayaan antarnegara.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan pentingnya posisi kebudayaan sebagai kekuatan lunak (soft power) yang strategis guna mempererat sinergi antara Indonesia dan negara-negara di kawasan Pasifik.
Hal tersebut disampaikannya saat menyampaikan pidato kunci (keynote speech) dalam seminar bertajuk “Beyond Cultural Exchange” di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yang menjadi rangkaian dari perhelatan Indonesia–Pacific Cultural Connect (IPCC) 2026.
Di tengah kompleksitas tantangan global, mulai dari ketegangan geopolitik, krisis iklim, hingga percepatan transformasi digital—Menteri Fadli menekankan bahwa diplomasi budaya harus ditempatkan sebagai infrastruktur utama untuk membangun kepercayaan dan ikatan kemanusiaan yang erat antarnegara.
“Kebudayaan harus dipandang sebagai kekuatan strategis atau soft power dalam membentuk kerja sama dan pembangunan internasional. Pengaruh internasional dapat diperkuat melalui daya tarik dan legitimasi, bukan melalui pemaksaan,” ucap Fadli Zon dalam keterangan yang diterima tvrinews, Jumat, 16 Oktober 2026.
Sinergi Berkelanjutan Melalui IPCC dan IPACS
Komitmen nyata Indonesia dalam merajut kemitraan erat dengan negara-negara Pasifik diwujudkan melalui penyelenggaraan forum kebudayaan berskala internasional, seperti IPCC 2026 di Yogyakarta serta forum Indonesia-Pacific Cultural Synergy (IPACS) 2025 yang sebelumnya sukses digelar di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

(Foto: TVRINews/HO-Kementerian Kebudayaan/Hebusa)
Menbud Fadli menilai bahwa program-program kolaboratif ini harus terus dirawat dan dijalankan secara berkelanjutan melalui aksi nyata, seperti program residensi seniman dan forum diskusi budaya lintas negara.
“Program residensi seniman antarnegara membawa keragaman tradisi melalui proses belajar bersama dan penciptaan karya seni kolaboratif. Inilah transisi nyata yang menjadi tujuan bersama, di mana perjumpaan budaya menjadi jejaring budaya yang berkelanjutan. Selain itu, gelar seminar ini juga mengusung hubungan antara kebudayaan dan pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.
Krisis Iklim dan Ancaman terhadap Warisan Budaya Pasifik
Isu krusial mengenai dampak krisis iklim terhadap eksistensi warisan budaya turut menjadi sorotan tajam dalam diskusi Beyond Cultural Exchange IPCC 2026. Menbud menuturkan bahwa fenomena kenaikan permukaan air laut di kawasan Pasifik Barat Daya serta berbagai risiko lingkungan ekstrem kini mengancam situs-situs warisan dunia dan ruang hidup leluhur masyarakat kepulauan.

(Foto: TVRINews/HO-Kementerian Kebudayaan/Hebusa)
Oleh karena itu, pengetahuan tradisional maritim serta kearifan lokal dalam mengelola ekosistem pesisir dinilai sangat berharga sebagai basis penyusunan strategi adaptasi iklim yang efektif.
“Bagi masyarakat Kepulauan Pasifik, warisan budaya, keberlanjutan lingkungan, dan ketahanan komunitas saling terhubung satu sama lain. Ancaman-ancaman ini dapat menyebabkan kehilangan tradisi budaya, situs-situs sakral, dan keberlangsungan komunitas. Oleh karena itu, kami turut menyerukan kerja sama dalam penelitian, dokumentasi, dan transmisi pengetahuan antargenerasi di kawasan Pasifik,” ungkap Menteri Kebudayaan.
Lima Agenda Praktis Diplomasi Kebudayaan Indonesia
Sebagai langkah konkret, Kementerian Kebudayaan menetapkan lima agenda praktis kerja sama dalam rangka memperkuat diplomasi kebudayaan yang berkesinambungan:
1. Memperkuat jejaring budaya yang berkelanjutan antar-masyarakat Pasifik.
2. Transmisi pengetahuan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia kebudayaan.
3. Kolaborasi sektor industri kreatif regional.
4. Memperkuat kerja sama kelembagaan strategis.
5. Memastikan keberlanjutan dan hasil kerja yang terukur bagi seluruh pihak.
Lebih lanjut, posisi Indonesia sebagai anggota Komite Antar-Pemerintah UNESCO untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda (periode 2026–2030) yang mewakili Kelompok Asia-Pasifik semakin mempertegas kesiapan Indonesia untuk mengemban peran sebagai jembatan kebudayaan dunia.
Menutup pemaparannya, Menbud Fadli Zon menegaskan komitmen penuh Indonesia untuk terus berjalan berdampingan sebagai mitra yang setara dengan negara-negara Pasifik, memperkuat perspektif bersama, serta berkontribusi aktif dalam percaturan dialog budaya internasional.










