TVRINews, Yogyakarta
Kedua negara mempertimbangkan pendaftaran warisan budaya takbenda ke UNESCO mengingat adanya kemiripan praktik seremonial memasak secara komunal.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, melaksanakan pertemuan bilateral strategis dengan Menteri Urusan Multi-Etnis, Kebudayaan, Warisan, dan Seni Fiji, Charan Jeath Singh, di sela-sela perhelatan Indonesia-Pacific Cultural Connect (IPCC) 2026.
Pertemuan tingkat tinggi ini digelar untuk memperkuat fondasi hubungan bilateral kedua negara yang telah terjalin kokoh selama 52 tahun, dengan fokus khusus pada peningkatkan kerja sama pelindungan warisan budaya, pertukaran seniman, serta akselerasi industri budaya dan kreatif.
Dalam pertemuan tersebut, Menbud Fadli Zon menekankan pentingnya merajut kemitraan jangka panjang yang berkelanjutan dengan berpijak pada kedekatan tradisi serta akar kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia dan Fiji.
“Indonesia dan Fiji memiliki hubungan yang telah terjalin lama dan menyimpan banyak potensi kerja sama di bidang kebudayaan. Kita dapat memperkuat hubungan ini melalui pembaruan atau penyusunan kembali nota kesepahaman di bidang kebudayaan dan warisan budaya, yang menjadi payung bagi berbagai program bersama ke depan,” ucap Menbud Fadli Zon dalam keterangan yang diterima tvrinews, Jumat, 16 Oktober 2026.
Peluang Nominasi Bersama UNESCO dan Kerja Sama Tradisi “Bakar Batu”
Sebagai langkah nyata diplomasi budaya, kedua menteri membahas potensi nominasi bersama tradisi budaya takbenda ke UNESCO. Salah satu sorotan menarik adalah tradisi memasak komunal menggunakan batu panas yang dikenal sebagai “bakar batu” di sejumlah wilayah Indonesia, yang ternyata memiliki kemiripan erat dengan praktik seremonial tradisional di Fiji.
Sebagai negara yang kini duduk sebagai anggota Komite Antarpemerintah UNESCO untuk Pelindungan Warisan Budaya Takbenda (periode 2026–2030), Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh kolaborasi internasional yang bermakna bagi negara-negara kepulauan.

(Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon bersama Menteri Urusan Multi-Etnis, Kebudayaan, Warisan, dan Seni Fiji, Charan Jeath Singh. [Foto: TVRINews/HO-Kementerian Kebudayaan/Hebusa])
“Kita dapat menjajaki nominasi bersama atas tradisi yang memiliki kesamaan, sekaligus memperkuat pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam pelestarian kebudayaan,” lanjut Menbud.
Selain itu, kerja sama bilateral ini juga akan dijabarkan melalui program-program konkret seperti:
* Kemitraan antarlembaga kebudayaan dan permuseuman.
* Program residensi dan pertukaran seniman lintas negara.
* Produksi karya seni dan budaya kolaboratif.
* Peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor kebudayaan.
Pemanfaatan Potensi Bambu untuk Penguatan Ekonomi Kreatif
Di samping warisan budaya takbenda, Menbud Fadli Zon turut menyoroti potensi strategis bambu sebagai pilar penting yang menghubungkan pengetahuan tradisional, keterampilan kriya, dan pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat.
Indonesia, yang memiliki rekam jejak panjang dalam pemanfaatan bambu mulai dari material konstruksi bangunan, instrumen musik, hingga kerajinan bernilai tinggi, siap berbagi pengalaman (best practices) guna mendukung pengembangan industri bambu di Fiji.
“Pengembangan bambu perlu dilihat secara menyeluruh, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pemanfaatannya menjadi produk bernilai tambah. Melalui pertukaran tenaga ahli dan penguatan keterampilan masyarakat, kerja sama ini dapat mendorong pengembangan kriya, membuka peluang ekonomi kreatif, serta memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat kedua negara,” jelas Fadli Zon.
Apresiasi dan Komitmen Pemerintah Fiji
Sementara itu, Menteri Urusan Multi-Etnis, Kebudayaan, Warisan, dan Seni Fiji, Charan Jeath Singh, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas sambutan hangat Pemerintah Indonesia. Ia menegaskan bahwa Fiji bertekad memperluas cakupan kerja sama kebudayaan guna mempererat ikatan antarmasyarakat (people-to-people contacts) yang telah terjalin selama lebih dari setengah abad.
“Fiji sangat menghargai hubungan jangka panjang dengan Indonesia dan dukungan yang telah diberikan di berbagai bidang. Kami melihat peluang besar untuk memperkuat kerja sama kebudayaan, khususnya dalam pelestarian warisan budaya, pengelolaan museum, dokumentasi budaya, serta pelindungan pengetahuan dan praktik tradisional bagi generasi mendatang,” ujar Charan Jeath Singh.
Ia juga menyambut baik gagasan pengembangan industri kreatif berbasis komunitas, termasuk optimalisasi kerajinan bambu melalui pelatihan teknis, pertukaran tenaga ahli, serta promosi produk di pasar regional dan global, yang diharapkan mampu membuka ruang partisipasi lebih luas bagi para perajin, perempuan, dan generasi muda.
“Kami ingin membangun kerja sama yang terarah dan berkelanjutan dengan Indonesia... Kami berharap berbagai peluang yang telah dibahas dapat diterjemahkan menjadi program nyata yang memberikan manfaat bagi lembaga kebudayaan, komunitas, dan masyarakat kedua negara,” harapnya.
Melalui komitmen bersama ini, Kementerian Kebudayaan siap menindaklanjuti seluruh poin kolaborasi demi memperkokoh kedekatan historis dan kultural Indonesia dan Fiji ke depan.










