TVRINews, Jakarta
Kementerian Kebudayaan memastikan buku Sejarah Indonesia yang baru disusun pemerintah dapat diakses secara gratis oleh masyarakat dalam format digital PDF melalui laman resmi Kementerian Kebudayaan. Buku tersebut ditujukan sebagai rujukan sejarah bagi publik luas, termasuk guru dan pelajar.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, saat ini naskah buku sejarah tersebut telah rampung dan tengah menjalani pemeriksaan akhir oleh editor umum sebelum dipublikasikan secara daring.
“Buku ini sudah selesai dan sekarang dalam tahap penyisiran terakhir oleh editor umum. Setelah itu, kami harapkan bisa segera diakses publik dalam bentuk PDF secara gratis,” ujar Fadli Zon, dikutip Minggu, 4 Januari 2026.
Fadli menjelaskan, proses penyuntingan akhir dilakukan untuk memastikan tidak terdapat kesalahan teknis, seperti salah ketik atau kekeliruan minor lainnya dalam naskah.
“Biasanya pada tahap akhir masih ditemukan typo atau kesalahan kecil. Itu yang sedang kita sempurnakan agar hasilnya maksimal sebelum dipublikasikan,” kata Fadli.
Ia menegaskan, setelah proses penyuntingan selesai, versi digital buku sejarah tersebut akan langsung diunggah ke situs resmi Kementerian Kebudayaan agar dapat diakses oleh siapa saja.
Fadli Zon juga menyampaikan bahwa pemerintah berhasil menyusun buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global dalam waktu relatif singkat. Menurutnya, capaian ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadirkan penulisan sejarah dari sudut pandang bangsa sendiri.
“Tahun 2026, kami juga merencanakan penulisan buku sejarah baru yang mengangkat satu periode sangat penting dalam perjalanan bangsa,” ujarnya.
Buku sejarah lanjutan yang direncanakan tersebut akan membahas periode 1945–1949. Fadli menilai, periode itu tidak tepat jika hanya disebut sebagai masa revolusi sebagaimana istilah yang kerap digunakan pihak Belanda.
“Bagi kita, ini adalah periode perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, bukan sekadar revolusi,” tegas Fadli.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan, mengatakan Gelar Wicara Sejarah menjadi bagian dari upaya sosialisasi Buku Sejarah Indonesia kepada masyarakat, khususnya tenaga pendidik.
“Pemerintah telah menyusun Buku Sejarah Indonesia dalam 10 jilid dan sudah dilakukan soft launching. Nantinya, buku ini dapat digunakan oleh guru, siswa, dan masyarakat luas sebagai rujukan sejarah,” kata Restu.
Menurut Restu, pelibatan guru dan masyarakat sejak awal diharapkan dapat memperkuat pemahaman sejarah nasional yang lebih utuh dan berimbang.
“Kami ingin buku ini tidak hanya menjadi karya akademik, tetapi benar-benar hadir dan digunakan dalam proses pembelajaran sejarah di Indonesia,” pungkasnya.










