TVRINews, Jakarta
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Jumhur Hidayat menegaskan pemerintah serius mempercepat pengurangan emisi gas metana di Indonesia melalui pengelolaan sampah dan limbah kelapa sawit.
Menurut Jumhur, gas metana memiliki dampak terhadap pemanasan global yang jauh lebih besar dibanding karbon dioksida.
“Gas metana yang bisa merusak ozon itu 28 sampai 34 kali lebih besar ketimbang karbon dioksida,” ujar Jumhur kepada wartawan termasuk tvrinews.com, Kamis, 21 Mei 2026.
Ia mengatakan sumber utama emisi metana di Indonesia berasal dari tempat pembuangan sampah terbuka atau open dumping serta limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME).
Pemerintah kini mempercepat berbagai langkah mitigasi, termasuk pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi.
“Untuk yang sampah, sekarang kita sedang bekerja keras. Bahkan beberapa tindakan nyata sudah dilakukan, termasuk di Jakarta dan daerah-daerah lain,” kata Jumhur.
Pemerintah juga tengah menjalankan program waste to energy dan waste to electricity di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Jumhur, terdapat sekitar 34 kawasan aglomerasi yang akan menggunakan sistem pengolahan sampah menjadi energi tersebut, mencakup sekitar 113 hingga 114 kota dan kabupaten.
Selain itu, pemerintah juga mulai memperkenalkan teknologi pengolahan sampah skala kecil hingga menengah dengan kapasitas 100 sampai 200 ton di berbagai daerah.
“Sedang diperkenalkan juga teknologi mengolah sampah skala 100-200 ton di berbagai kabupaten untuk diolah menjadi energi dalam bentuk lain,” ucap Jumhur.
Untuk penanganan open dumping, pemerintah mulai menerapkan metode penutupan menggunakan lapisan HDPE dan menangkap gas metana yang dihasilkan dari pembusukan sampah.
Namun, Jumhur mengakui penerapan teknologi tersebut masih belum dilakukan secara masif dan terintegrasi.
“Sekarang Pemerintah Pusat melalui Kementerian LH akan memimpin ini supaya perubahan bisa terjadi secara masif,” tutur Jumhur.
Selain sampah, pemerintah juga mendorong pengurangan emisi metana dari limbah cair kelapa sawit melalui teknologi methane capture untuk menghasilkan listrik.
Menurut Jumhur, sejumlah lokasi sudah mulai menerapkan teknologi tersebut dan akan terus diintensifkan.
Ia menambahkan pemerintah juga mendorong pemanfaatan teknologi pengolahan limbah agar tidak sempat mengalami pembusukan yang menghasilkan gas metana.
“Semua cara kita lakukan, kita sangat serius mereduksi gas metana karena kita ingin selamat, baik di Indonesia dan dunia,” ujar Jumhur.
Sejumlah daerah yang telah memulai proyek pengolahan sampah menjadi energi antara lain Jakarta, Bandung, Makassar, dan Palembang.
“Bahkan nanti Oktober di Palembang sudah bisa operasi waste to electricity,” ucap Jumhur.
Terkait pembiayaan, Jumhur menegaskan proyek-proyek tersebut terbuka untuk investasi swasta karena memiliki potensi bisnis dari penjualan listrik.
“Ini bisnis. Jadi orang investasi karena dia bisa jualan listrik,” tutur Jumhur.










