TVRINews, Surakarta
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mencanangkan revitalisasi kawasan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Jawa Tengah. Pencanangan ditandai dengan peletakan batu pertama sebagai simbol dimulainya penataan kawasan bersejarah tersebut.
Fadli Zon mengatakan, Keraton Kasunanan Surakarta memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah dan kebudayaan Jawa. Keraton yang dibangun pada 1744-1745 itu tidak hanya menyimpan bangunan bersejarah, tetapi juga pusaka, manuskrip, tradisi, serta pengetahuan yang menjadi satu kesatuan dalam kawasan cagar budaya.
“Revitalisasi yang kita canangkan ini merupakan wujud komitmen pemerintah untuk menjaga dan merawat warisan budaya yang ada di Keraton Surakarta. Kita tidak hanya ingin memulihkan bangunan-bangunan bersejarah, tetapi juga menjaga nilai dan tradisi yang hidup di dalamnya,” kata Fadli, Kamis, 24 September 2026.
Menurut Fadli, revitalisasi tidak sebatas memperbaiki bangunan fisik. Pemerintah juga ingin memastikan kawasan Keraton Surakarta tetap menjadi ruang kebudayaan yang aktif, sekaligus tempat masyarakat mempelajari sejarah dan tradisi.
Karena itu, penataan museum dan perpustakaan menjadi salah satu bagian penting dalam revitalisasi. Koleksi serta pengetahuan yang tersimpan di lingkungan Keraton diharapkan dapat lebih mudah diakses dan dipelajari masyarakat.
“Setelah revitalisasi selesai, kita berharap Keraton Kasunanan Surakarta menjadi satu kantong budaya yang penting di Indonesia, termasuk sebagai pusat edukasi, pusat narasi, dan pusat literasi,” ujar Fadli.
Ia menambahkan, keberadaan tradisi yang terus dijalankan menjadi bagian penting agar Keraton Surakarta tetap berfungsi sebagai living heritage atau warisan budaya yang terus hidup.
Revitalisasi kawasan Keraton Surakarta mencakup 13 titik, di antaranya Pagelaran, Sitinggil, Museum Keraton, Kasentanan, Panti Pidana, Keraton Kilen/Kulon, Keputren, Ndalem Ageng, kawasan Kamandungan, Bangsal Pradonggo dan Pradonggo Kidul, Sasana Handrawina, serta Panggung Sangga Buwana.
Penanganan juga dilakukan pada sejumlah bangunan di kawasan Keraton Kilen dan Sino Renggo.
Untuk Museum Keraton, revitalisasi meliputi konservasi koleksi, pendataan dan inventarisasi, penataan ruang pamer, penguatan narasi sejarah, hingga peningkatan kualitas informasi bagi pengunjung.
Tak hanya menyasar fisik, pemerintah juga menyiapkan penguatan aspek nonfisik. Program tersebut mencakup peningkatan kapasitas Sentana Dalem dan Abdi Dalem, pewarisan pengetahuan, penguatan narasi budaya, serta pembenahan tata kelola.
Fadli menekankan keberhasilan revitalisasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk Keraton, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Budaya ini bukan cost center, bukan beban biaya, tetapi merupakan investasi. Karena itu, kita harus menjaga, melindungi, sekaligus memanfaatkan aset-aset budaya kita sehingga ekosistemnya hidup dan dapat berkelanjutan,” tegas Fadli.
Sementara itu, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap keberadaan Keraton Kasunanan Surakarta.
Ia berharap revitalisasi dapat menjadi momentum untuk memperkuat kerja bersama di lingkungan Keraton, termasuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan budaya.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian dan kepedulian Pemerintah Republik Indonesia kepada Keraton Kasunanan Surakarta,” kata Tedjowulan.
Tedjowulan juga menyatakan akan mendorong generasi muda untuk memahami tugas, tanggung jawab, hak, dan kewajiban mereka dalam menjaga keberlangsungan Keraton Surakarta.
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebelumnya telah ditetapkan Kementerian Kebudayaan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2026 pada 18 Januari 2026.
Penetapan tersebut sekaligus memperkuat tanggung jawab pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk melindungi serta melestarikan warisan budaya yang ada di kawasan Keraton.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kebudayaan juga meresmikan Kantoran Ndalem sebagai kantor KGPH Panembahan Agung Tedjowulan. Fasilitas tersebut akan digunakan untuk menunjang tugasnya sebagai Pelaksana Keraton Surakarta.
Dengan dimulainya revitalisasi, Kementerian Kebudayaan bersama pihak Keraton dan pemerintah daerah akan melanjutkan penataan kawasan, konservasi bangunan dan koleksi, serta penguatan tradisi dan pengetahuan yang hidup di dalam Keraton.
Pemerintah berharap revitalisasi tersebut dapat menjaga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tetap menjadi pusat kebudayaan yang hidup sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat dan generasi mendatang.










