Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Strategi Asta Cita targetkan serapan tenaga kerja masif melalui sektor pangan, desa, maritim, dan perumahan.
Presiden Prabowo Subianto memaparkan peta jalan ambisius dalam upaya pengentasan pengangguran melalui penguatan sektor riil.
Dalam sebuah wawancara strategis, Kepala Negara menegaskan bahwa kombinasi empat program unggulan pemerintah diproyeksikan mampu menyerap jutaan tenaga kerja sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi melampaui angka 8 persen.
Lini terdepan dari transformasi ini adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Presiden menjelaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan ekosistem ekonomi baru.
Melalui pembentukan sekitar 30.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau unit dapur terpadu, pemerintah menargetkan terciptanya 1,5 juta lapangan kerja langsung.
"Setiap unit dapur diperkirakan mampu menyerap hingga 50 tenaga kerja," ujar Presiden Prabowo saat memberikan keterangan di kediamannya, Hambalang, Bogor, yang dikutip pada Minggu 22 Maret 2026.
Lebih lanjut, Presiden menekankan adanya efek domino ekonomi (multiplier effect) pada rantai pasok lokal.
Setiap dapur akan didukung oleh 5 hingga 10 vendor pemasok bahan baku, yang pada gilirannya melibatkan para petani lokal.
Skema ini diprediksi mampu memberikan penghidupan tambahan bagi 1,5 juta orang lainnya di sektor agrikultur.
Revitalisasi Ekonomi Desa dan Maritim
Selain sektor konsumsi, pemerintah mengandalkan Koperasi Desa Merah Putih sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan.
Dengan target aktivasi 80.000 koperasi di seluruh pelosok negeri, program ini diproyeksikan membuka peluang kerja bagi 1,4 juta individu, dengan asumsi setiap koperasi dikelola oleh sedikitnya 18 personel.
Di sektor kelautan, fokus diarahkan pada pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih. Target pembangunan 1.100 kampung nelayan pada tahun 2026 bertujuan untuk mereplikasi keberhasilan proyek percontohan di wilayah Timur Indonesia.
"Kami telah memulai proyek percontohan di Biak, dan hasilnya menunjukkan kenaikan pendapatan nelayan di kisaran 60 hingga 80 persen," ungkap Presiden ke-8 RI tersebut.
Beliau menambahkan bahwa program ini didesain tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan individu, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi regional.
Sektor Properti sebagai Lokomotif Utama
Pilar keempat yang menjadi sorotan adalah program pembangunan satu juta rumah. Proyek infrastruktur kerakyatan ini dinilai memiliki daya serap tenaga kerja paling masif.
Dengan estimasi penggunaan lima pekerja per unit hunian, sektor ini diharapkan mampu menampung hingga 5 juta tenaga kerja.
Angka tersebut belum termasuk dampak turunan pada industri pendukung, seperti manufaktur bahan bangunan, logistik, hingga penyedia utilitas.
Sinergi dari seluruh program tersebut menjadi basis optimisme pemerintah dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi yang agresif.
"Saya memiliki keyakinan kuat bahwa saat seluruh instrumen ini berjalan secara simultan, pertumbuhan ekonomi nasional akan mampu menembus angka di atas 8 persen," pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews
