TVRINews, Kupang
Hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Menengah Pertama 19 Kupang memberikan kesan mendalam bagi Junaidi Romadhon. Guru bimbingan konseling (BK) berusia 25 tahun asal Sampang, Madura ini belum sempat memperkenalkan diri ketika anak-anak sudah menyapanya lebih dulu, “Pak Guru!”
Salah satu dari siswa kemudian berkata,“Presiden tidak akan jadi presiden kalau tidak ada guru.”
Kalimat itu menancap betul di hati Junaidi, yang baru sehari tiba di Kupang tanpa gambaran utuh apa yang akan dihadapinya. Keyakinannya hanya satu, program Sekolah Rakyat akan membawanya pada pengalaman berharga.
Namun, ia tak menduga pengalaman itu akan mengubah cara pandangnya tentang hidup, profesi, dan masa depan anak-anak dari keluarga prasejahtera.
“Penghargaan diri saya sebagai profesi guru, sangat diapresiasi di sini. Oleh siswa dan lingkungan,” kata Junaidi dalam keterangannya yang diterima, Junat 22 Mei 2026.
Junaidi sendiri tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang tukang becak dan buruh tani, sementara ibunya hanya lulusan sekolah dasar yang berjualan jajanan kecil. Kendati demikian, sang ibu memiliki pandangan jauh ke depan.
“Kamu kuliah dulu. Pendidikan itu bisa memutus rantai kemiskinan,” begitu pesan sang ibu. Pesan itu kelak menjadi pegangan yang ia bawa jauh ke Kupang, dan kini ia tanamkan kembali kepada murid-muridnya.
Sebagian besar siswa Sekolah Rakyat datang dengan latar belakang yang beragam. Banyak di antara mereka yang tidak memiliki sosok ayah atau ibu, tinggal di rumah tidak layak huni, atau membawa pengalaman emosional yang belum terurai.
Suatu hari, ketika ia memanggil dua siswa untuk konseling, hal tidak terduga terjadi. Saat pintu dibuka, 15 anak lain justru ikut datang.
“Pak, saya mau cerita,” ujar mereka bergiliran. Sejak momen itu, ia menyadari bahwa kebutuhan terbesar anak-anak bukan hanya sekadar pelajaran, tetapi perhatian dan kehadiran seorang guru.
Perubahan perilaku anak-anak pun mulai terasa perlahan. Pada awal program, situasi kelas sering kali ricuh, diwarnai bercanda berlebihan, berkelahi, atau sulit fokus karena membawa beban dari rumah. Melalui layanan preventif dan konseling, mereka mulai belajar mengatur emosi dan memahami tanggung jawab.
“Sekarang mereka lebih tertib dan mau mendengarkan,” kata Junaidi.
Di ruang BK, ia mendapati fakta lain yang cukup memprihatinkan. Dari 25 siswa, 18 di antaranya mengaku rendah diri, bahkan sebagian dari mereka tidak tahu arti dari kata “rendah diri”. Banyak yang merasa malu dengan latar belakang keluarga atau merasa tidak cukup pintar. Bagi Junaidi, membangun keberanian anak-anak untuk memimpikan masa depan yang lebih tinggi adalah tugas yang paling penting.
Ia pun menyimpan harapan besar bagi masa depan murid-muridnya tersebut agar bisa mengenyam pendidikan tinggi.
“Anak-anak harus bisa lanjut SMA dan kuliah. Minimal S1. Itu baru bisa mengangkat ekonomi keluarga mereka,” ucapnya. Ia tahu betul, tanpa pendidikan yang cukup, banyak dari mereka yang akan kembali menjadi buruh tani seperti orang tuanya.
Baginya, program Sekolah Rakyat bukan hanya soal menghadirkan sekolah di daerah terpencil, tetapi juga menjemput anak-anak dari kondisi paling rentan. Ia melihat sendiri kondisi rumah mereka yang tidak layak huni, di mana anak-anak hanya tidur di atas tikar di bawah tumpukan kayu.
“Anak-anak bayangkan setiap hari tidur seperti itu. Pasti ada masalah. Ada tugas perkembangan yang masih belum dicapai,” kata dia.
Di balik seragam yang ia kenakan hari ini, tetap ada sosok Junaidi kecil dari Madura yang pernah ikut melaut, memberi makan sapi, dan bekerja serabutan demi membantu perekonomian keluarga.
“Kita punya latar belakang yang sama,” katanya.
Menutup ceritanya, Junaidi mengenang kembali pesan ibunya tentang pendidikan sebagai jalan untuk memutus rantai kemiskinan. Ia menegaskan kesiapannya untuk mengamalkan prinsip tersebut demi masa depan anak-anak di Kupang.
“Makanya saya harus benar-benar jadi guru, jangan setengah-setengah,” pungkasnya.










