TVRINews, Jakarta
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan industri perhiasan nasional sebagai salah satu subsektor manufaktur bernilai tambah tinggi yang berkontribusi besar terhadap ekspor Indonesia. Upaya tersebut dilakukan melalui pembinaan industri, peningkatan kapasitas pelaku usaha, transformasi teknologi, hingga perluasan akses pasar.
Salah satu langkah yang dilakukan Kemenperin adalah mendukung penyelenggaraan Bandung Jewellery Fair (BJF) 2026 yang berlangsung pada 11–14 Juni 2026. Pameran tersebut menjadi ajang promosi produk unggulan, perluasan jaringan bisnis, serta pengenalan inovasi terbaru bagi pelaku industri perhiasan nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, industri perhiasan memiliki karakteristik yang unik karena menggabungkan unsur kreativitas, keterampilan, budaya, dan teknologi dalam menghasilkan produk bernilai tinggi.
“Industri perhiasan menjadi salah satu sektor unggulan yang memiliki nilai tambah tinggi dan kontribusi penting terhadap ekspor manufaktur Indonesia. Tidak hanya berperan sebagai penghasil devisa negara, tetapi juga menjadi wadah pelestarian produk bernilai budaya serta penciptaan lapangan kerja yang tersebar di berbagai daerah,”kata Agus dalam keterangan tertulis, Senin, 15 Juni 2026.
Menurut Agus, kinerja industri perhiasan nasional menunjukkan perkembangan yang positif. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, nilai ekspor barang perhiasan dan barang berharga mencapai USD 9,1 miliar, meningkat 64,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD 5,5 miliar.
Ia menilai peningkatan tersebut mencerminkan semakin kuatnya daya saing produk perhiasan Indonesia di pasar global. Karena itu, kualitas produk, inovasi desain, keberlanjutan usaha, serta kemampuan industri dalam mengikuti perkembangan tren pasar internasional perlu terus diperkuat.
“Peningkatan ekspor ini menjadi bukti bahwa industri perhiasan Indonesia memiliki prospek yang sangat baik. Momentum ini harus terus dijaga melalui penguatan ekosistem industri yang mampu mendorong inovasi, produktivitas, dan daya saing secara berkelanjutan,”jelasnya.
Meski mencatat pertumbuhan yang signifikan, Agus mengakui industri perhiasan masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga bahan baku, perubahan preferensi konsumen, hingga percepatan transformasi digital. Untuk itu, diperlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha agar industri tetap kompetitif.
Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menegaskan bahwa transformasi digital dan penerapan konsep Industri 4.0 menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri perhiasan nasional.
Saat membuka BJF 2026, Reni mengatakan pemanfaatan teknologi dapat membantu pelaku industri meningkatkan efisiensi produksi, mempercepat inovasi, dan menghasilkan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.
“Transformasi digital dan penerapan Industri 4.0 memungkinkan industri perhiasan bekerja lebih efisien, menghasilkan produk yang lebih presisi, serta mampu merespons kebutuhan konsumen secara lebih cepat dan tepat,”ungkap Reni.
Sebagai bagian dari upaya percepatan transformasi industri, Kemenperin telah melakukan penilaian Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) terhadap sejumlah perusahaan di sektor industri aneka, termasuk industri logam mulia dan perhiasan.
Hasil evaluasi menunjukkan tingkat kesiapan yang baik dalam penerapan teknologi digital, mulai dari digitalisasi sistem manajemen, penggunaan kecerdasan buatan (AI), penguatan keamanan siber, pengembangan produk cerdas yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, hingga integrasi teknologi pintar dalam proses produksi.
“Hasil tersebut menunjukkan bahwa industri logam mulia dan perhiasan mampu mengintegrasikan teknologi modern dengan kreativitas dan keterampilan sumber daya manusia untuk menghasilkan produk yang inovatif dan bernilai tambah tinggi,”lanjutnya.
Di sisi lain, Direktur Industri Aneka Kemenperin Reny Meilany menilai penyelenggaraan pameran seperti BJF memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem industri perhiasan nasional. Pameran ini menghadirkan berbagai produk dan industri pendukung, mulai dari perhiasan emas, perak, mutiara, berlian, batu alam, hingga berbagai produk kerajinan bernilai tinggi.
Menurut Reny, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana promosi dan pemasaran, tetapi juga membuka peluang kemitraan, investasi, serta kolaborasi yang dapat meningkatkan daya saing industri perhiasan Indonesia.
“Pameran seperti Bandung Jewellery Fair memiliki peran strategis sebagai sarana promosi, kolaborasi, dan pengembangan bisnis. Kegiatan ini tidak hanya mempertemukan produsen dan pembeli, tetapi juga menjadi ruang bertemunya ide, inovasi, serta peluang kerja sama yang dapat memperkuat daya saing industri perhiasan Indonesia,”ujar Reny.










