TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, menilai pemanfaatan teknologi seperti artificial intelligence (AI) dan 3D printing dapat menjadi kekuatan baru dalam mengembangkan ekonomi kreatif Indonesia tanpa meninggalkan akar budaya lokal.
Irene mengapresiasi karya seniman visual Jemana Murti yang dinilai berhasil memadukan tradisi Bali dengan teknologi futuristik. Hal itu disampaikannya saat mengunjungi Jemana Murti Studio di Bali, Jumat, 8 Mei 2026.

"Kami sangat terkesan dengan bagaimana Jemana Murti Studio berhasil menjembatani kesenjangan antara kearifan lokal Bali dengan teknologi futuristik. Kementerian hadir untuk memastikan eksplorasi seni berbasis AI-generated dan 3D printing mendapat ruang tumbuh yang tepat. Inovasi ini merupakan wajah baru ekonomi kreatif yang berani mendefinisikan ulang tradisi di era digital," ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 9 Mei 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Irene berdialog langsung dengan para seniman untuk melihat proses kreatif pembuatan patung dan instalasi eksperimental yang mengangkat isu regenerasi tradisi Bali. Menurutnya, pendekatan berbasis teknologi seperti ini menjadi peluang besar untuk membawa karya kreatif Indonesia menembus pasar global.
Ia juga menegaskan bahwa teknologi modern tidak harus menghilangkan identitas budaya. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi medium baru untuk menjaga dan memperkuat nilai-nilai tradisi.
"Lewat karya Jemana Murti, kita melihat bagaimana teknologi 3D printing mampu menjaga jiwa budaya Bali dengan memadukan tradisi dan modernitas secara harmonis. Saya berharap seluruh seniman dapat berkolaborasi agar kekuatan budaya kita bisa bersinar di panggung global tanpa kehilangan jati diri," ucapnya.
Jemana Murti dikenal sebagai seniman visual asal Denpasar yang mengeksplorasi regenerasi budaya Bali melalui pendekatan old meets new. Ia memadukan estetika tradisional dengan AI dan 3D printing untuk menciptakan karya eksperimental yang menyoroti hubungan manusia, ritual, dan teknologi.
Kunjungan ini juga menjadi bagian dari upaya Kementerian Ekraf memperkuat ekosistem ekonomi kreatif Bali yang tidak hanya bergantung pada sektor pariwisata, tetapi juga pada pengembangan kekayaan intelektual (IP) karya seniman lokal.










