TVRINews, Jakarta
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menggandeng Belgia, Luksemburg, dan Uni Eropa untuk memperluas pasar industri kreatif Indonesia di tingkat global.
Langkah tersebut dibahas dalam pertemuan Menteri Ekonomi Kreatif dengan Duta Besar RI untuk Kerajaan Belgia terakreditasi Keharyapatihan Luksemburg dan Uni Eropa, Y.M. Andy Rachmianto di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas peluang kolaborasi strategis guna memperkuat pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia secara berkelanjutan, sekaligus membuka akses pasar Eropa bagi berbagai subsektor kreatif nasional.

"Ekonomi kreatif bukan hanya tentang karya, tetapi juga masa depan generasi muda Indonesia. Kementerian Ekraf siap mengakselerasi local hero go national and national champion go global melalui dukungan kolaborasi KBRI di berbagai negara termasuk Belgia, Luksemburg, dan Uni Eropa," ujar Teuku Riefky dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 9 Mei 2026.
Menurutnya, pengembangan ekonomi kreatif menjadi bagian penting dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Kemenekraf mencatat realisasi investasi sektor ekonomi kreatif pada 2025 mencapai Rp183 triliun atau 134 persen dari target nasional. Angka tersebut dinilai menunjukkan tingginya potensi industri kreatif sebagai penggerak ekonomi nasional sekaligus pencipta lapangan kerja bagi generasi milenial dan Gen Z.
Dalam audiensi tersebut, Kemenekraf juga menawarkan peluang kerja sama pengembangan subsektor ekonomi kreatif Indonesia di pasar Eropa, mulai dari kuliner dan kopi, hingga film, animasi, gim, fesyen, komik, dan kriya.
Selain memperluas pasar, pemerintah juga mendorong penguatan diplomasi ekonomi kreatif melalui penyelenggaraan World Conference Creative Economy 2026. Forum internasional itu akan mempertemukan pelaku industri kreatif, akademisi, dan organisasi internasional dari sekitar 80 negara.
"Momentum ini penting sebagai wujud diplomasi Indonesia untuk menyatukan gerakan kolektif ekonomi kreatif yang berkelanjutan," ucapnya.
Sementara itu, Andy Rachmianto menyambut positif peluang kerja sama tersebut. Menurut dia, Belgia, Luksemburg, dan Uni Eropa memiliki industri kreatif yang maju sehingga berpotensi menjadi mitra strategis Indonesia.
Ia juga mengungkapkan pihak KBRI akan menggelar Brussels International Film Festival pada September mendatang dan berharap karya sineas Indonesia dapat tampil dalam festival tersebut.
"Kami mengharapkan ada film-film Indonesia yang bisa kita tampilkan di acara tersebut," kata Andy.
Andy menambahkan, KBRI siap membantu memperluas jejaring internasional sekaligus mempromosikan WCCE 2026 agar industri kreatif Indonesia semakin dikenal di pasar global.










