TVRINews, Jakarta
Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Televisi Republik Indonesia (TVRI) akan menghadirkan kembali sebuah kemasan ulang dari sinetron yang pernah menjadi tren pada tahun 1991 hingga 1992 dengan judul "Sitti Nurbaya" pada 21 Maret 2025.
Sinetron yang pertama kali populer pada tahun 1991 hingga 1992 ini menceritakan kisah tragis antara Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri, sepasang kekasih yang bersumpah sehidup semati namun terhalang oleh ambisi Datuk Meringgih. Datuk Meringgih memaksa ayah Sitti Nurbaya untuk menikahkannya demi melunasi utang, yang akhirnya memisahkan mereka.
Sinetron ini kembali hadir setelah melalui proses restorasi berbasis teknologi Artificial Intelligence (AI), yang akan memberikan pengalaman baru bagi pemirsa dengan kualitas gambar dan suara yang lebih tajam dan jernih.
Proses restorasi ini bertujuan untuk menghadirkan kualitas terbaik, sesuai dengan standar teknologi modern, sehingga pemirsa masa kini dapat menikmati tayangan dengan kualitas yang lebih baik.
Disutradarai oleh Dedi Setiadi, seorang sutradara senior TVRI, sinetron ini mengambil lokasi syuting di Studio Alam Depok, Jawa Barat. Cerita Sitti Nurbaya diadaptasi dari novel legendaris karya Marah Rusli yang pertama kali diterbitkan pada 1922.
Drama ini menjadi karya sinematik pertama yang diangkat dari novel tersebut dan menjadi salah satu yang paling sukses berkat naskah yang ditulis oleh Asrul Sani, seorang penulis naskah senior yang terkenal.
Tokoh-tokoh utama dalam sinetron ini diperankan oleh artis-artis ternama seperti Novia Kolopaking, Gusti Randa, HIM Damsyik, Remy Silado, Ninik L. Karim, Rina Hassim, dan Dian Hasri, yang berhasil membawakan peran mereka dengan sangat baik.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyambut positif restorasi sinetron Sitti Nurbaya. Menurutnya, kisah Sitti Nurbaya bukan hanya sebuah cerita cinta klasik, tetapi juga mencerminkan realitas sosial pada zamannya.
“Upaya TVRI dalam merestorasi drama ini adalah bentuk nyata pelestarian budaya yang harus terus didukung. Saya berharap TVRI terus melestarikan karya-karya bersejarah lainnya dan memperkenalkannya pada generasi muda,” ujarnya.
Direktur Utama LPP TVRI, Iman Brotoseno, juga mengungkapkan kebanggaannya atas proyek restorasi ini. Dalam sambutannya, Iman mengatakan bahwa TVRI memiliki banyak aset audio visual berharga, termasuk drama-drama lama yang terlantar.
“Ketika saya masuk, saya menemukan kaset-kaset drama lama yang terlupakan. Padahal, ini adalah ‘harta karun’ yang harus dilestarikan,” ujarnya.
Proyek restorasi drama Sitti Nurbaya dimulai sejak 2023 dan bertujuan untuk menghadirkan kualitas visual dan audio yang lebih sesuai dengan teknologi modern.
“Restorasi Sitti Nurbaya adalah langkah besar untuk mengembalikan kejayaan sinema klasik Indonesia. Pada tahun 1990-an, drama ini adalah versi Indonesia dari drama Korea yang populer,” tambah Iman.
Ia juga menegaskan bahwa Sitti Nurbaya setara dengan drama-drama populer masa kini dan layak untuk dinikmati oleh generasi sekarang dengan kualitas terbaik.
Kembalinya drama Sitti Nurbaya ke layar kaca adalah sebuah langkah penting dalam melestarikan karya budaya Indonesia yang tak ternilai harganya.
Melalui proses restorasi ini, LPP TVRI berupaya untuk mengenalkan kembali kekayaan sastra dan sinema Indonesia kepada masyarakat, terutama kepada generasi muda yang belum mengenal karya legendaris ini.










