TVRINews - Jakarta
Pemerintah Pusat Salurkan Bantuan Pemulihan bagi Guru dan Pelajar Terdampak Gempa di Ngada dan Nagekeo
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengambil langkah cepat dalam merespons dampak bencana di Nusa Tenggara Timur. Pemerintah menyalurkan dana bantuan senilai total Rp305 juta yang difokuskan untuk meringankan beban keluarga korban jiwa, serta membiayai pemulihan para pendidik dan peserta didik yang mengalami luka-luka akibat gempa bumi di Kabupaten Ngada dan Nagekeo.
Berdasarkan data Kementerian selasa 25 Agustus 2026, alokasi dana tersebut mencakup santunan duka sebesar Rp25 juta yang disalurkan kepada ahli waris satu tenaga pendidik dan tiga peserta didik yang gugur dalam insiden tersebut. Selain itu, porsi terbesar senilai Rp280 juta dialokasikan khusus untuk pemulihan medis para guru serta murid yang menderita luka-luka akibat guncangan tektonik tersebut.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyampaikan langsung dukungan moril tersebut saat meninjau kondisi fasilitas pendidikan di SD Inpres Ngelapadhi. Kehadiran pimpinan tertinggi sektor pendidikan nasional ini tidak sekadar menyerahkan bantuan administratif, melainkan turut membangun kembali optimisme komunitas sekolah yang sempat terguncang.
Di tengah puing-puing sisa bencana, suasana haru dan kehangatan sempat mencairkan ketegangan psikologis. Para pelajar menyambut kedatangan rombongan kementerian dengan senandung riang berjudul Rukun Sama Teman. Menteri Mu’ti bahkan bergabung bersama anak-anak, melantunkan lirik lagu tersebut sebelum meluangkan waktu berdialog secara personal mengenai impian masa depan mereka.
Dialog singkat tersebut memunculkan momen yang menyentuh ketika salah satu anak dengan lugas menyatakan tekadnya.
"Terus semangat belajar, tidak menyerah, dan jangan takut untuk bercita-cita tinggi," pesan Menteri Mu’ti kepada para siswa, merespons jawaban salah satu anak yang bercita-cita menjadi anggota TNI. Pendekatan humanis ini dinilai penting untuk memulihkan trauma psikologis anak-anak pascabencana.
Pemulihan mental tidak hanya menyasar kalangan pelajar, tetapi juga para tenaga pengajar yang berada di garda terdepan. Maria Epivania Getrudis, seorang guru dari TKN Libunio, membagikan kesaksian mencekam ketika detik-detik gempa menghancurkan ketenangan malam keluarganya.
Bersama suaminya, ia harus menyelamatkan diri dalam kepanikan tanpa mengindahkan keselamatan fisik di tengah runtuhnya struktur bangunan.
"Kami langsung lari keluar. Kami tidak melihat lagi apa yang kami injak. Sempat jatuh karena ada tangga, tetapi tetap lari sekitar 100 meter sampai ke tempat kosong," kenang Maria, menggambarkan situasi darurat yang hingga kini masih menyisakan kewaspadaan berlebih pada dirinya terhadap setiap getaran kecil.
Kendati demikian, lawatan pejabat pusat ke wilayah timur Indonesia tersebut memberikan suntikan moril yang signifikan bagi para pendidik lokal. Maria mengaku bangga dan terharu atas perhatian langsung yang diberikan oleh pemerintah pusat terhadap wilayah yang secara geografis berada jauh dari ibu kota. Kehadiran langsung tersebut, menurutnya, menjadi terapi efektif untuk meredakan kecemasan kolektif para guru.
Apresiasi serupa disampaikan oleh pimpinan daerah setempat. Bupati Ngada, Raymundus Bena, menyampaikan rasa terima kasih atas respons cepat dan kehadiran fisik pemerintah pusat di tengah masyarakatnya yang sedang berjuang bangkit.










