TVRINews, Jakarta
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menegaskan pentingnya transformasi menyeluruh dalam layanan jantung nasional guna membangun sistem kesehatan yang mandiri, tepercaya, dan mampu bersaing di tingkat global.
Komitmen tersebut menjadi fokus dalam forum Editorial ASMIHA 2026 bertajuk Beyond Borders: Trust, Training, and the Future of Indonesian Cardiology yang digelar di Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026.
Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Serangan jantung dan stroke diperkirakan merenggut hampir 800 ribu nyawa setiap tahun. Di sisi lain, meningkatnya jumlah masyarakat yang memilih berobat ke luar negeri menjadi tantangan bagi penguatan layanan kesehatan nasional.
Ketua The 35th ASMIHA 2026, Amir Aziz Alkatiri, mengatakan penyelenggaraan tahun ini diikuti sekitar 2.500 peserta yang terdiri atas dokter spesialis jantung, dokter umum, tenaga kesehatan, akademisi, peneliti, hingga mahasiswa dari dalam dan luar negeri.
Ia menjelaskan, ASMIHA 2026 mengusung pendekatan yang lebih multidisiplin dengan mempertemukan pembuat kebijakan, organisasi profesi, penyedia layanan kesehatan, serta tokoh masyarakat dalam satu forum.
"ASMIHA tidak lagi hanya membahas perkembangan ilmu kardiologi, tetapi juga penguatan sistem layanan jantung Indonesia, mulai dari pendidikan dokter spesialis, pemerataan layanan, pembiayaan, hingga membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan di dalam negeri,” kata Amir dalam keterangan yang diterima tvrinews di Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan jantung, ASMIHA 2026 juga menghadirkan aktris senior Christine Hakim sebagai pembicara. Kehadirannya memberikan perspektif dari sisi keluarga pasien sekaligus memperkuat kolaborasi antara dunia medis dan figur publik dalam mendorong deteksi dini serta pencegahan penyakit jantung.

Dalam forum tersebut, Ketua Dewan Etik PERKI Muhammad Munawar dan Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia Renan Sukmawan menilai tantangan pelayanan jantung saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan klinis dokter.
Keduanya menyebut kompetensi dokter spesialis jantung Indonesia telah memenuhi standar internasional. Namun, pengalaman pasien secara menyeluruh dinilai menjadi faktor penting untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan nasional.
"Kualitas pelayanan tidak berhenti pada tindakan medis. Transparansi komunikasi, pelayanan yang humanis, proses yang mudah dipahami, serta pengalaman pasien sejak pertama datang hingga selesai menjalani perawatan merupakan bagian penting dalam membangun kembali kepercayaan masyarakat," ungkap Munawar.
Isu keberlanjutan pembiayaan juga menjadi perhatian dalam diskusi. Mayjen TNI (Purn.) Prihati Pujowaskito menjelaskan tingginya beban penyakit jantung berdampak besar terhadap pembiayaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Menurutnya, penerapan inovasi teknologi kesehatan perlu diimbangi dengan efektivitas biaya dan kebijakan berbasis bukti melalui Health Technology Assessment (HTA).
Data BPJS Kesehatan menunjukkan biaya pelayanan penyakit jantung mencapai sekitar Rp12,1 triliun dengan sekitar 15 juta kasus pelayanan. Angka tersebut menjadikan penyakit jantung sebagai salah satu penyakit dengan beban pembiayaan terbesar dalam program JKN.
Sementara itu, Ketua PP PERKI Ade Meidian Ambari menekankan bahwa transformasi pelayanan kesehatan juga harus dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan tenaga kesehatan. Menurutnya, pemerataan dokter spesialis ke berbagai daerah perlu didukung insentif yang memadai, kepastian jenjang karier, perlindungan hukum, serta lingkungan kerja yang aman agar pelayanan berkualitas dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, tokoh nasional Dahlan Iskan membagikan pengalamannya sebagai pasien. Ia menilai kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi rumah sakit, tetapi juga kemudahan akses, birokrasi yang sederhana, waktu tunggu yang singkat, serta komunikasi yang hangat dan penuh empati.
Melalui forum Editorial ASMIHA 2026, PERKI menegaskan komitmennya untuk mendorong transformasi layanan jantung melalui kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi, institusi pendidikan, penyedia layanan kesehatan, dan masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan mampu mewujudkan ekosistem layanan kardiologi Indonesia yang mandiri, berkualitas, dan semakin dipercaya masyarakat.










