Penulis: Llia. S
TVRINews, Jakarta
Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia menggelar Forum Demokrasi Indonesia sebagai ruang bagi generasi muda untuk memperkuat kepemimpinan sipil serta ketahanan demokrasi di tengah berbagai tantangan global.
Pendiri dan Ketua FPCI, Dino Patti Djalal, mengatakan forum tersebut diselenggarakan untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap demokrasi di kalangan generasi muda, terutama mereka yang tidak mengalami langsung kehidupan pada masa pemerintahan yang membatasi kebebasan berpendapat.
Menurut Dino, generasi yang lahir setelah era Reformasi 1998 cenderung tidak merasakan bagaimana sulitnya menyampaikan kritik atau menyuarakan aspirasi di ruang publik. Karena itu, ia menilai demokrasi tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang akan selalu ada tanpa dijaga.
"Demokrasi bukan sesuatu yang konstan. Demokrasi bisa menguat, tetapi juga bisa mengalami kemunduran jika tidak dirawat,"ujar Dino dalam keterangan yang diterima tvrinews di Karet Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 22 Juli 2026.
Ia mencontohkan berbagai dinamika yang terjadi di sejumlah negara demokrasi, termasuk Amerika Serikat, sebagai pengingat bahwa sistem demokrasi tetap menghadapi tantangan dan membutuhkan partisipasi aktif masyarakat untuk menjaganya.
Dino menegaskan, tujuan utama forum ini adalah membangun generasi muda yang menghargai nilai-nilai demokrasi, menjunjung kebebasan berpendapat, serta mampu berkompetisi secara sehat tanpa menghilangkan rasa saling menghormati meski memiliki perbedaan pandangan politik.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan peserta dari berbagai latar belakang organisasi dan partai politik yang tetap mampu berdialog secara terbuka dan konstruktif selama forum berlangsung.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia, Jan Senkyr, mengatakan tema Next Generation Civic Leadership and Democratic Resilience sangat relevan dengan kondisi global saat ini.
Menurutnya, berbagai negara menghadapi tantangan berupa polarisasi politik, menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi politik, penyebaran disinformasi, serta perubahan cepat dalam ruang digital yang memengaruhi cara masyarakat berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi.

(Direktur Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia, Jan Senkyr. (paling kanan))
Meski demikian, Jan menilai Indonesia memiliki capaian yang patut diapresiasi karena berhasil membangun demokrasi yang relatif stabil di tengah masyarakat yang majemuk.Namun, ia menegaskan bahwa demokrasi bukanlah proyek yang telah selesai. Demokrasi harus terus diperkuat melalui partisipasi masyarakat, dialog yang konstruktif, serta kepemimpinan yang bertanggung jawab.
Jan juga menyoroti pengalaman Jerman setelah Perang Dunia II yang menunjukkan bahwa keberlangsungan demokrasi tidak hanya bergantung pada institusi, tetapi juga pada komitmen masyarakat dalam memahami, menerima, dan menjalankan nilai-nilai demokrasi.
Karena itu, menurutnya, pendidikan politik dan pengalaman berdemokrasi menjadi faktor penting dalam membangun masyarakat yang demokratis.
Ia menambahkan, KAS selama puluhan tahun berkomitmen mendukung penguatan demokrasi, supremasi hukum, dan partisipasi politik di berbagai negara, termasuk Indonesia. Melalui kerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan FPCI, KAS berharap dapat berkontribusi dalam mencetak generasi muda yang siap menjadi pemimpin masa depan.
Forum Demokrasi Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi wadah diskusi mengenai isu-isu demokrasi, tetapi juga membangun jejaring antarpeserta yang dapat mendorong kolaborasi dan memperkuat kepemimpinan sipil di masa mendatang.










