TVRINews, Jakarta
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjalin kerja sama dengan Keio University, Jepang, untuk meneliti sejarah stabilitas sosial-ekonomi dan adaptasi lingkungan di Pulau Jawa sejak 1870 hingga masa kini.
Penelitian lintas disiplin tersebut akan mengkaji keberlanjutan pemanfaatan infrastruktur dan teknologi peninggalan kolonial serta proses adaptasinya terhadap kondisi lingkungan setempat. Kajian ini juga akan menelusuri kontribusi warisan infrastruktur tersebut terhadap perkembangan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kepala Pusat Riset Kewilayahan (PRW) BRIN, Ahmad Helmy Fuady, mengatakan kolaborasi dengan Keio University, khususnya Fakultas Ekonomi, merupakan kerja sama akademik perdana yang dibangun atas kesamaan fokus dan kepentingan penelitian kedua institusi.
Helmy menjelaskan, inisiatif kerja sama bermula dari kunjungan seorang fellow Keio University ke BRIN. Pertemuan tersebut kemudian berkembang menjadi diskusi mengenai peluang pelaksanaan penelitian bersama.
“Keio University memiliki sejumlah penelitian mengenai Indonesia, termasuk peninggalan Belanda dan Eropa di Indonesia. Sementara itu, Pusat Riset Kewilayahan BRIN juga memiliki kajian Jepang dan Eropa yang memberikan perhatian terhadap jejak sejarah serta pengaruhnya terhadap perkembangan wilayah di Indonesia. Ada kesamaan tema penelitian yang dapat kita kerjakan bersama,”ujar Helmy dalam keterangan tertulis, dikutip, Kamis, 5 November 2026.
Ia mengatakan, penelitian akan menggabungkan pendekatan sejarah, ekonomi, dan kewilayahan. Fokus kajian tidak hanya terbatas pada penelusuran sejarah infrastruktur peninggalan kolonial, tetapi juga mencakup keberlanjutan penggunaannya serta dampaknya terhadap perekonomian masyarakat hingga saat ini.
Salah satu objek yang akan dikaji adalah bendungan peninggalan Belanda yang masih digunakan untuk menunjang kegiatan pertanian. Peneliti akan menelusuri latar belakang pembangunan, teknologi yang diterapkan, hingga manfaat infrastruktur tersebut bagi kegiatan ekonomi masyarakat sekitar.
Selain itu, kawasan pesisir Jawa Barat berpeluang menjadi lokasi penelitian untuk mengidentifikasi penerapan teknologi peninggalan Eropa, termasuk proses penyesuaiannya dengan karakteristik lingkungan setempat dan manfaatnya bagi masyarakat.
Dalam perjanjian kerja sama tersebut, BRIN dan Keio University menyepakati tiga bentuk kegiatan utama, yakni pengelolaan proyek penelitian bersama, pelaksanaan penelitian lapangan, serta pertukaran personel, peneliti, dan tenaga ahli dari kedua institusi.
Kegiatan penelitian lapangan akan mencakup survei, pengumpulan dan pemrosesan data, hingga analisis hasil penelitian. Melalui tahapan tersebut, kedua institusi diharapkan dapat menghasilkan kajian yang komprehensif dan memiliki landasan akademik yang kuat.
Helmy berharap kolaborasi tersebut dapat ditindaklanjuti melalui kegiatan penelitian nyata dan menghasilkan publikasi ilmiah bersama, bukan sekadar kesepakatan formal antarlembaga.
“Harapannya, kerja sama ini tidak hanya berhenti di atas kertas. Penelitian benar-benar dapat dilaksanakan dengan melibatkan peneliti Keio University dan BRIN untuk bersama-sama menghasilkan karya ilmiah serta memberikan dampak yang lebih luas bagi kedua negara,”jelasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan berbagai disiplin ilmu menjadi salah satu aspek penting dalam penelitian tersebut. Meskipun Keio University melibatkan Fakultas Ekonomi dan BRIN melalui Pusat Riset Kewilayahan, kajian akan mengintegrasikan perspektif sejarah, ekonomi, teknologi, lingkungan, dan dinamika wilayah.
Melalui kolaborasi ini, BRIN dan Keio University diharapkan dapat memperluas jejaring akademik Indonesia-Jepang sekaligus memperkaya pemahaman mengenai keberlanjutan infrastruktur peninggalan kolonial, perubahan sosial-ekonomi masyarakat, serta kemampuan wilayah di Jawa beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dari masa kolonial hingga sekarang.









