TVRINews, Jakarta
Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul menegaskan penggunaan teknologi biometrik dalam digitalisasi bantuan sosial (bansos) melalui portal Perlindungan Sosial (Perlinsos) menjadi langkah penting agar penyaluran bantuan lebih tepat sasaran dan data penerima semakin akurat.
Transformasi digital tersebut ditandai oleh transparansi data, pemutakhiran identitas penerima manfaat menggunakan teknologi biometrik, hingga penguatan sinergi antarkementerian dan lembaga.
Pernyataan tersebut disampaikan Mensos saat menghadiri Rapat Koordinasi Rencana Rollout Nasional Digitalisasi Perlinsos di Kantor Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Jakarta, Jumat 16 Oktober 2026. Rapat koordinasi itu dipimpin langsung oleh Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan serta dihadiri sejumlah menteri dan kepala badan terkait.

Gus Ipul mengungkapkan, poin utama dari transformasi ini terletak pada pergeseran sistem pendataan dari yang semula tertutup menjadi serba terbuka. Menurutnya, keterbukaan informasi ini memberikan kesempatan bagi publik untuk memantau, mencermati, sekaligus memberikan masukan terkait data penerima bantuan.
“Dari tertutup menjadi terbuka, itu yang paling istimewa sebenarnya dari proses ini,” kata Gus Ipul.
Ia menerangkan, langkah transparansi tersebut merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto demi membangun tata kelola data publik yang transparan dan akuntabel. Dengan skema baru ini, masyarakat dapat berpartisipasi aktif mengawasi kualitas data serta menyampaikan sanggahan jika ditemukan ketidaksesuaian di lapangan.
Tak hanya mengedepankan transparansi, pemerintah juga melakukan registrasi ulang terhadap seluruh penerima manfaat dengan memperketat verifikasi identitas. Jika sebelumnya pendataan hanya mengandalkan metode by name by address, kini sistem tersebut disempurnakan dengan teknologi pengenalan wajah atau face recognition.
Penerapan verifikasi biometrik ini dinilai menjadi terobosan penting untuk mengantisipasi celah penyaluran bantuan sosial yang salah sasaran.
"Kalau dulu kita gagah dengan by name by address, sekarang ditambah biometrik, face recognition. Ini jadi revolusi, karena dulu bisa jadi kita kirim (bantuan ke) orang sesuai by name by address, tapi yang terima cucunya, yang terima anaknya, tapi sekarang enggak bisa. Ini yang terbaru," jelas Gus Ipul.
Meski demikian, Gus Ipul mengingatkan bahwa pembaruan sistem teknologi harus diimbangi dengan sosialisasi secara konsisten kepada masyarakat. Pemahaman warga mengenai perubahan mekanisme pendataan dan verifikasi sangat diperlukan agar implementasi digitalisasi berjalan optimal.
Di samping itu, aspek perlindungan dan keamanan data pribadi juga wajib menjadi perhatian utama seiring makin terintegrasinya akses informasi antarlembaga.
“Memang sosialisasi ini harus kita teruskan sambil memperkuat sistem kita,” ujarnya.
Mensos turut menyampaikan apresiasi atas keterbukaan dan kerja sama antarkementerian maupun lembaga dalam mendukung penyatuan data Perlinsos. Integrasi data lintas instansi ini dinilai menjadi pondasi kuat dalam menetapkan sasaran program perlindungan sosial di Indonesia.
"Hari ini, lewat Perlinsos ini, data kita makin kuat. Dan yang penting yang harus dicatat, ini seluruh kementerian kerja sama dan saling terbuka. Ini pertama kali juga duduk seperti ini, itu baru pertama kali, Pak Luhut, data-data terhubung," ungkap Gus Ipul.










