TVRINews, Banjarmasin
Tim SAR Gabungan kembali menemukan 11 korban dalam operasi pencarian KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di Perairan Laut Jawa.
Kepala Kantor SAR Banjarmasin I Putu Sudayana merinci, sebanyak lima jenazah dievakuasi dari badan kapal, sementara enam jenazah lainnya ditemukan di wilayah Pantai Sungai Perlu, Seruyan, Kalimantan Tengah.
"Lima jenazah berhasil dievakuasi dari badan kapal oleh tim penyelam gabungan dari Basarnas Special Group dan dari penyelam TNI Angkatan Laut dan tim penyelam dari POSI. Jadi lima jenazah berhasil dievakuasi dari badan kapal," kata Putu dalam konferensi persnya, Jumat, 25 September 2026.
"Kemudian enam jenazah berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan dari Kalimantan Tengah di bawah koordinator kantor SAR Palangkaraya," lanjutnya.
Putu menjelaskan, proses evakuasi enam jenazah dari Kalimantan Tengah dilakukan melalui jalur darat. Rencana awal untuk menggunakan helikopter tidak dapat dilaksanakan karena kondisi asap akibat kebakaran hutan di wilayah tersebut.
"Nah khusus untuk jenazah, enam jenazah yang dari Kalimantan Tengah saat ini dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit Bhayangkara. Nah kenapa tidak dievakuasi dengan menggunakan heli? Kami sudah merencanakan menggunakan heli namun karena faktor kebakaran hutan, asap di sana tebal sehingga kita putuskan evakuasi jenazah itu melalui jalur darat dan diperkirakan besok jam 9 itu tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin," jelasnya.
Lebih lanjut, Putu mengungkap sejumlah kendala yang dihadapi dalam operasi pencarian, salah satunya faktor cuaca. Gelombang di lokasi pencarian berkisar 1,75 hingga 2,5 meter sehingga memengaruhi pergerakan tim di lapangan.
Selain cuaca, kondisi arus laut di bawah permukaan juga menjadi kendala. Arus yang cukup kencang dan berubah sewaktu-waktu membuat jadwal penyelaman harus disesuaikan dengan kondisi di bawah air.
"Nah ini cukup kencang dan berubah sewaktu-waktu sehingga rencana-rencana yang jam-jam yang kita telah rencanakan itu di empat sorti yang rencana kita laksanakan ini berubah semua jam-jamnya. Karena apa? Tim penyelam harus melaksanakan assessment lagi di bawah di air. Kalau memang arusnya bersahabat dan memungkinkan untuk penyelaman itu segera akan dilaksanakan penyelaman," ungkapnya.
Menurut Putu, terdapat jeda waktu tertentu ketika kondisi arus memungkinkan tim melakukan penyelaman dan mengevakuasi korban dari badan kapal.
Kendala juga dihadapi dalam proses evakuasi korban yang ditemukan di wilayah Kalimantan Tengah. Lokasi penemuan berada di daerah terpencil, dengan kondisi jalan yang tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.
"Kemudian kendala berikutnya ya penemuan-penemuan korban yang di Kalimantan Tengah ini ditemukan di daerah-daerah yang terpencil ya sehingga memerlukan waktu untuk proses evakuasi. Korban ditemukan di daerah Pantai Sungai Perlu. Nah ini kondisi jalannya tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda empat. Jadi harus digandeng, dibonceng dengan kendaraan roda dua," ucapnya.
Kondisi tersebut membuat proses evakuasi membutuhkan waktu dan upaya lebih dari tim SAR di Kalimantan Tengah sebelum korban dapat dibawa menuju rumah sakit.
Selain faktor cuaca dan kondisi medan, kondisi kapal yang tenggelam juga menjadi kendala bagi tim penyelam. Posisi kapal yang miring membuat sejumlah bagian tidak dapat dijangkau karena berisiko terhadap keselamatan penyelam.
"Faktor yang terakhir adalah faktor kondisi kapal. Nah itu menjadi kendala juga karena kondisi kapal posisinya miring jadi ada bagian-bagian yang memang tidak bisa dilalui atau dicari oleh tim selam karena membahayakan, berisiko untuk keselamatan ya, keselamatan tim penyelam itu sendiri," pungkasnya.










