TVRINews, Jakarta
Mahasiswa Universitas Teknologi Bandung (UTB), Muhamad Arga Reksapati, mencatatkan prestasi di bidang keamanan siber setelah temuannya mengenai kerentanan pada sistem Claude AI mendapat pengakuan dari perusahaan pengembangnya, Anthropic. Laporan yang ia kirim melalui platform HackerOne dinilai valid dan memperoleh penghargaan melalui program bug bounty senilai USD3.700.
Anthropic mengategorikan laporan Arga sebagai kerentanan dengan tingkat keparahan High dan skor 7,7 setelah melalui proses verifikasi. Pengakuan tersebut menjadi pencapaian internasional bagi mahasiswa yang juga merupakan penerima Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Arga mengungkapkan, ketertarikannya pada keamanan kecerdasan artifisial berawal dari keinginan memahami cara sistem AI memproses data dan konteks dalam pengembangan perangkat lunak. Dari proses pembelajaran itu, ia kemudian melakukan analisis secara mandiri hingga menemukan indikasi adanya celah keamanan.
Sebelum melaporkan temuannya, Arga memastikan terlebih dahulu bahwa kerentanan tersebut benar-benar dapat dibuktikan dan memiliki dampak terhadap keamanan sistem.
“Saya melakukan verifikasi teknis terlebih dahulu agar temuan yang disampaikan benar-benar valid, dapat direproduksi, dan memiliki dampak yang jelas,” ujarnya.
Laporan yang telah dilengkapi penjelasan teknis, analisis dampak, langkah reproduksi yang aman, serta bukti pendukung kemudian dikirim melalui mekanisme pelaporan resmi Anthropic.
Prestasi tersebut bukan yang pertama bagi Arga. Sebelumnya, ia juga berhasil menemukan sejumlah kerentanan pada proyek open source curl/libcurl yang banyak digunakan di berbagai layanan digital. Temuan itu telah memperoleh identitas Common Vulnerabilities and Exposures (CVE), masuk ke dalam National Vulnerability Database (NVD), dan namanya tercantum dalam security advisory resmi curl sebagai pelapor kerentanan.
Arga mengaku dukungan KIP Kuliah membantunya untuk lebih fokus mengembangkan kompetensi selama menempuh pendidikan di UTB.
Menurutnya, bantuan pendidikan tersebut memberikan kesempatan untuk terus belajar, mengikuti perkembangan teknologi, serta memperdalam keahlian di bidang keamanan siber dan kecerdasan artifisial.
Sementara itu, Rektor Universitas Teknologi Bandung, Muchammad Naseer, menilai capaian Arga membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing di tingkat global apabila didukung lingkungan akademik yang mendorong inovasi dan riset.
Ia mengatakan UTB akan terus memperkuat ekosistem pembelajaran melalui pendampingan riset, kolaborasi dengan industri, serta pengembangan kompetensi di bidang teknologi masa depan agar semakin banyak mahasiswa yang mampu menghasilkan karya berdaya saing internasional.
Prestasi Arga menjadi contoh bahwa talenta muda Indonesia memiliki peluang besar berkontribusi dalam pengembangan keamanan teknologi global melalui riset yang dilakukan secara etis, bertanggung jawab, dan berbasis kompetensi.










