TVRINews, Jakarta
Himpunan Wastraprema (HWP) menggelar bincang wastra bertajuk “Dwaja Pusaka Caruban Nagari: Sejarah Umbul-Umbul Keraton Cirebon” di Museum Tekstil Jakarta, Sabtu, 4 Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan hari ulang tahun ke-50 HWP sekaligus mengangkat kembali jejak sejarah wastra Nusantara yang berkaitan dengan perjalanan Kota Jakarta menjelang usia lima abad pada 2027.
Diskusi menghadirkan budayawan sekaligus sejarawan Cirebon, Mustaqim Asteja, serta Kepala Seksi Pembinaan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat, Bayu Niti Permana. Acara dipandu pemerhati wastra Nurdiansyah Dalidjo dan diikuti pegiat budaya serta pencinta wastra.
Ketua Umum Himpunan Wastraprema, Sri Sintasari Iskandar, mengatakan tema yang diangkat memiliki hubungan erat dengan sejarah lahirnya Jakarta. Menurutnya, panji atau umbul-umbul yang dimiliki kerajaan-kerajaan Nusantara merupakan simbol identitas sekaligus warisan budaya yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.
“Dwaja Pusaka Caruban Nagari yang kini tersimpan di Museum Tekstil merupakan salah satu koleksi bersejarah. Melalui kegiatan ini kami ingin memperkenalkan nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalamnya agar tetap dikenal dan dilestarikan oleh generasi penerus,” ujar Sri Sintasari.
Ia menjelaskan, Dwaja Pusaka Caruban Nagari merupakan bendera berbahan katun dengan teknik batik tulis bermotif kaligrafi Arab berukuran 310 x 196 sentimeter. Panji tersebut dibuat pada 1776 dengan mencontoh bendera generasi sebelumnya dan menjadi koleksi Museum Tekstil sejak 1976 setelah diserahkan oleh Gusti Kanjeng Putri Mangkunegara VIII.
Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati, mengapresiasi penyelenggaraan bincang wastra tersebut. Menurutnya, Museum Tekstil memiliki peran penting sebagai ruang edukasi untuk memperkenalkan kekayaan wastra Indonesia kepada masyarakat.
“Kami berharap pameran dan bincang wastra ini semakin memperkuat sinergi antarpegiat budaya sekaligus menginspirasi masyarakat untuk mengenal lebih dekat sejarah dan kekayaan wastra Nusantara. Pameran edukatif ini akan berlangsung hingga 30 Agustus 2026,” katanya.
Dalam paparannya, Mustaqim Asteja menjelaskan bahwa secara historis panji Dwaja Pusaka Caruban Nagari dibawa armada gabungan Kesultanan Cirebon, Demak, dan Banten di bawah pimpinan Fatahillah saat merebut Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527. Peristiwa tersebut kemudian menjadi tonggak lahirnya Jayakarta yang kini dikenal sebagai Jakarta.
“Umbul-umbul ini bukan sekadar bendera kerajaan, tetapi menjadi simbol perjuangan ketika armada Fatahillah memenangkan pertempuran di Sunda Kelapa. Dari kemenangan itulah lahir nama Jayakarta yang menjadi cikal bakal Jakarta saat ini,” jelas Mustaqim.
Ia menambahkan, motif pada panji tersebut memuat berbagai simbol, seperti dua kalimat syahadat, kaligrafi berbentuk macan, pedang Zulfikar, basmalah, Surah Al-Ikhlas, serta sejumlah rajah yang sarat makna religius dan semangat perjuangan.
Sementara itu, Bayu Niti Permana mengatakan panji tersebut memiliki makna penting sebagai lambang kedaulatan Caruban Nagari sekaligus simbol perlawanan masyarakat pribumi terhadap penjajahan.
“Nilai sejarah yang terkandung dalam panji ini menunjukkan bahwa wastra bukan hanya karya seni, tetapi juga bagian dari identitas, kedaulatan, dan perjalanan sejarah bangsa,” ujar Bayu.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan kepada para narasumber dan moderator, dilanjutkan pemotongan tumpeng sebagai bentuk syukur atas peringatan 50 tahun Himpunan Wastraprema bersama para pencinta wastra yang hadir.










