TVRINews, Jakarta
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin memperkenalkan Asta Mandala SMK Go Global sebagai strategi pemerintah mencetak talenta Indonesia yang kompeten, terlindungi, dan berdaya saing global.
Asta Mandala menjadi kerangka utama dalam pelaksanaan program SMK Go Global yang diarahkan untuk mentransformasi penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) menuju tenaga kerja berkeahlian menengah dan tinggi.
Mukhtarudin mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari implementasi arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ekosistem pelindungan PMI sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
"Pembentukan Kementerian P2MI merupakan bentuk keseriusan dan kepedulian Bapak Presiden dalam memperkuat ekosistem pelindungan bagi Pekerja Migran Indonesia, mulai dari sebelum penempatan, selama bekerja di luar negeri, hingga purnapenempatan," kata Mukhtarudin dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Kamis, 6 Agustus 2026.
Menurutnya, pemerintah melakukan transformasi kelembagaan, sistem, dan budaya kerja, termasuk menyusun grand design Kementerian P2MI 2025–2045 sebagai arah pembangunan pelindungan pekerja migran ke depan.
Di sisi lain, paradigma penempatan PMI juga diubah. Pemerintah tidak lagi ingin PMI identik dengan pekerjaan berkeahlian rendah, tetapi diarahkan menjadi tenaga kerja dengan kompetensi yang mampu memenuhi kebutuhan industri internasional.
"Kami melakukan rebranding bahwa Pekerja Migran Indonesia bukan lagi dipandang sebagai tenaga kerja berkeahlian rendah. Arahan Presiden sangat jelas, yaitu meningkatkan kualitas pelindungan sekaligus mendorong transformasi penempatan menuju tenaga kerja medium dan high skill," ujarnya.
Melalui program SMK Go Global, pemerintah menargetkan penempatan 500.000 Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) sepanjang 2026–2029. Target tersebut terdiri atas 40.000 CPMI pada 2026, 140.000 pada 2027, 180.000 pada 2028, dan 140.000 pada 2029.
Program ini menyasar lulusan SMK dan masyarakat umum dengan pelatihan yang disusun berdasarkan kebutuhan riil pasar kerja internasional atau demand driven.
Kemudian Mukhtarudin menegaskan, kebutuhan tenaga kerja dari negara tujuan akan menjadi dasar dalam menentukan kompetensi yang harus dimiliki peserta sebelum ditempatkan.
"Mekanismenya sederhana, yaitu ada dulu kebutuhan tenaga kerja dari negara tujuan, ditentukan kompetensinya, kemudian dilakukan pelatihan. Prinsipnya adalah latih, kompeten, lalu tempatkan," tegasnya.
Untuk mendukung pelaksanaan program, pemerintah membentuk Satuan Tugas SMK Go Global yang melibatkan 12 kementerian dan lembaga, perguruan tinggi, lembaga pendidikan vokasi, serta sektor swasta.
Tenaga kerja yang dipersiapkan akan diarahkan untuk mengisi berbagai sektor prioritas, seperti caregiver, perawat, manufaktur, konstruksi, pengelasan, hospitality, transportasi, hingga agrikultur.
Adapun negara tujuan prioritas antara lain Jepang, Jerman, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Taiwan, Turki, Polandia, Maladewa, serta negara-negara Eropa lainnya sesuai kebutuhan pasar kerja.
Pendaftaran peserta SMK Go Global dijadwalkan mulai dibuka pada 12 Agustus 2026 melalui 23 satuan kerja Kementerian P2MI yang tersebar di berbagai provinsi.
Asta Mandala dan Brain Circulation
Dalam pelaksanaannya, Asta Mandala SMK Go Global terdiri atas Panca Sukses sebagai strategi implementasi dan Tri Dampak sebagai tujuan akhir.
Panca Sukses mencakup Sukses Kompetensi, Sukses Perlindungan, Sukses Penempatan, Sukses Remitansi, dan Sukses Tata Kelola.
Sementara Tri Dampak yang ditargetkan meliputi dampak sosial berupa peningkatan kesempatan kerja dan kesejahteraan masyarakat, peningkatan kualitas sumber daya manusia yang kompeten dan profesional, serta dampak ekonomi melalui peningkatan remitansi yang turut memperkuat devisa negara.
Mukhtarudin menegaskan, Asta Mandala bukan sekadar kerangka program, tetapi bagian dari strategi pembangunan SDM Indonesia melalui pengalaman kerja internasional.
"Asta Mandala SMK Go Global bukan sekadar kerangka penyelenggaraan program. Ini merupakan komitmen pemerintah untuk menjadikan penempatan Pekerja Migran Indonesia sebagai strategi pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang memiliki daya saing global. Inilah yang kami sebut sebagai brain circulation," jelasnya.
Konsep brain circulation tersebut memungkinkan PMI memperoleh pengalaman internasional, dan kompetensi global sebelum kembali ke Tanah Air untuk berkontribusi dalam pembangunan.
Lebih lanjut, Mukhtarudin menyebut purna PMI memiliki potensi besar menjadi talenta global karena membawa pengalaman, kemampuan bahasa, kompetensi kerja, disiplin, dan mental yang diperoleh selama bekerja di luar negeri.
"Banyak purna pekerja migran yang kembali ke Indonesia dengan kemampuan bahasa, kompetensi, pengalaman kerja, disiplin, dan mental yang kuat. Mereka menjadi talenta global yang mampu berkontribusi bagi pembangunan Indonesia. Itulah tujuan besar yang ingin kita bangun melalui SMK Go Global," ucapnya.
Mukhtarudin optimistis sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga vokasi, dan dunia usaha dapat menjadikan SMK Go Global sebagai motor penggerak lahirnya talenta unggul Indonesia.
Program tersebut sekaligus diharapkan memperluas peluang kerja yang aman dan berkualitas serta memperkuat daya saing bangsa menuju Indonesia Emas 2045.









