TVRINews, Nusa Tenggara Timur
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus menyisir wilayah terdampak gempa bumi M7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengidentifikasi kebutuhan warga sekaligus memastikan bantuan kemanusiaan menjangkau lokasi yang sulit diakses.
Penyisiran dilakukan Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari di Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat. Asesmen dilakukan di Dusun Coal, Desa Coal, dan Dusun Dahang, Desa Pangga.
Di kedua wilayah tersebut, BNPB menemukan warga yang mengungsi secara mandiri maupun di lokasi pengungsian terpusat. Selain melakukan asesmen, BNPB juga menyalurkan bantuan, termasuk bantuan dari Presiden.
Berdasarkan hasil pendataan, sebanyak 148 rumah di Desa Coal dan Desa Pangga mengalami kerusakan. Rinciannya, 101 rumah rusak berat, 12 rumah rusak sedang, dan 35 rumah rusak ringan. Satu warga dilaporkan meninggal dunia.
Jumlah pengungsi di Desa Coal mencapai 1.108 orang. Sementara itu, lebih dari 20 keluarga di Desa Pangga memilih mengungsi secara mandiri.
Muhari mengatakan BNPB menerima laporan bahwa sebagian warga di wilayah tersebut belum mendapatkan bantuan sejak gempa terjadi empat hari sebelumnya. Sehingga, BNPB langsung mendatangi lokasi untuk melihat kondisi warga sekaligus memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi.
“Kami saat ini langsung ke lokasi dan melihat langsung kondisi masyarakat. Dari laporan camat tadi sudah ada bantuan pangan dan tentu saja ini akan terus kita tindak lanjuti,” ujar Muhari dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurutnya, akses menuju wilayah tersebut menjadi salah satu kendala dalam distribusi bantuan. Jarak dari Labuan Bajo mencapai sekitar 3,5 jam perjalanan dengan kondisi jalan yang cukup sulit.
BNPB memastikan bantuan pangan, sandang, serta kebutuhan dasar lainnya dapat diterima warga terdampak.
“Ini akan jadi atensi kita karena jarak dari Labuan Bajo ke sini ditempuh sekitar 3,5 jam dan akses jalan cukup sulit. Kita akan pastikan masyarakat terdampak di sini menerima bantuan pangan dan kebutuhan sandang, kebutuhan dasar permakanan dan non-permakanan,” kata Muhari.
BNPB juga menaruh perhatian terhadap warga yang memilih mengungsi secara mandiri. Menurutnya, tidak semua warga yang mengungsi mandiri mendirikan tenda di sekitar rumah. Sebagian memilih meninggalkan rumah karena mengalami trauma akibat gempa dan masih merasakan guncangan susulan.
“Tantangan kita memang di titik-titik masyarakat mengungsi secara mandiri. Ini tidak semuanya masyarakat yang mendirikan tenda di sekitar rumah. Itu rumahnya rusak, tetapi ada faktor psikologi trauma dan guncangan gempa susulan yang masih terus berjalan sampai sekarang,” ucap Muhari.
Kondisi tersebut membuat BNPB bersama pos komando yang dipimpin pemerintah daerah terus memantau keberadaan pengungsi mandiri. Pendataan tidak hanya difokuskan pada kerusakan bangunan, tetapi juga pada kebutuhan warga selama masih berada di lokasi pengungsian.
Muhari mengatakan kelompok rentan seperti anak-anak, ibu-ibu, dan lanjut usia menjadi perhatian dalam pemenuhan kebutuhan selama masa tanggap darurat.
“Selain pendataan bangunan yang rusak terus kita lakukan, masyarakat yang masih mengungsi karena kita lihat banyak anak-anak, banyak ibu-ibu, banyak lansia juga akan kita pastikan selama masih ada pengungsi-pengungsi mandiri, kebutuhan makanan dan permakanan terpenuhi,” tutur Muhari.
Hingga kini, BNPB bersama BPBD di sejumlah kabupaten terdampak terus mendistribusikan bantuan logistik kepada masyarakat. Untuk mempercepat penyaluran, pos pendukung logistik bantuan di NTT dipusatkan di Labuan Bajo dan Maumere.
BNPB memastikan penyisiran dan pendataan terus dilakukan, terutama untuk menemukan titik-titik pengungsian mandiri yang belum terjangkau bantuan. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat distribusi kebutuhan dasar kepada seluruh warga terdampak gempa di NTT.










