TVRINews, Jakarta
Pemerintah Indonesia menilai pertemuan Presiden Myanmar Min Aung Hlaing dengan Presiden Rusia Vladimir Putin merupakan bagian dari hubungan bilateral kedua negara dan tidak serta-merta memengaruhi sentralitas ASEAN.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Yvonne Mewengkang mengatakan, hubungan bilateral Myanmar dengan negara mitra merupakan hak dan kewenangan masing-masing negara.
“Kami mencermati pertemuan pemimpin Myanmar dan Rusia sebagai bagian dari hubungan bilateral kedua negara. Hubungan bilateral Myanmar dengan negara mitra merupakan kewenangan dan hak masing-masing negara. Hal tersebut tidak serta-merta memengaruhi sentralitas ASEAN,” ujar Yvonne, Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurutnya, bagi Indonesia, sentralitas ASEAN tercermin dari kemampuan organisasi kawasan tersebut memainkan peran utama dalam menangani berbagai persoalan di Asia Tenggara.
Dalam konteks Myanmar, Indonesia tetap memandang Five-Point Consensus sebagai rujukan utama ASEAN untuk membantu negara tersebut mencari penyelesaian atas krisis yang berlangsung.
“Bagi Indonesia, sentralitas ASEAN berarti kemampuan ASEAN memainkan peran utama dalam menangani isu di kawasan. Dalam hal ini, Five-Point Consensus tetap menjadi rujukan utama ASEAN dalam membantu Myanmar menemukan penyelesaian damai, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Yvonne.
Dengan demikian, Indonesia menilai hubungan bilateral Myanmar dengan Rusia tidak mengubah posisi ASEAN dalam menangani persoalan Myanmar.
Indonesia tetap mendorong mekanisme ASEAN sebagai jalur utama untuk mendukung terciptanya penyelesaian yang damai, inklusif, dan berkelanjutan.










