TVRINews, Riau
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq mengapresiasi capaian sektor pendidikan di Kota Dumai, Provinsi Riau, yang dinilai menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Fajar, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indikator pendidikan di Kota Dumai telah melampaui rata-rata nasional. Rata-rata lama sekolah (RLS) meningkat dari 10,15 tahun pada 2022 menjadi 10,29 tahun pada 2024 dan mencapai 10,30 tahun pada 2025.
Sementara harapan lama sekolah tercatat sebesar 13,36 tahun pada 2025.
“Data BPS ini memperlihatkan capaian pendidikan di Kota Dumai telah melampaui nasional,” kata Fajar.
Ia menilai capaian tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai program pemerintah, termasuk Program Indonesia Pintar (PIP) yang membantu peserta didik dari keluarga kurang mampu agar tetap melanjutkan pendidikan.
Hingga Mei 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyalurkan bantuan PIP kepada 7.579 siswa di Kota Dumai dengan total anggaran lebih dari Rp4,6 miliar. Penyaluran bantuan tersebut mencakup 4.195 siswa jenjang SD, 2.135 siswa SMP, 584 siswa SMA, dan 665 siswa SMK.
Sejumlah penerima manfaat mengaku bantuan PIP sangat membantu kebutuhan pendidikan mereka. Jolin, siswa kelas 9 SMP Maitreyawira, mengatakan dana PIP digunakan untuk membeli kebutuhan sekolah sekaligus meringankan beban orang tua. Ia mengaku mulai menerima bantuan sejak kelas 8 SMP setelah mendapatkan informasi dari pihak sekolah yang juga membantu proses administrasi hingga pencairan dana.
“Dana PIP sangat membantu kebutuhan sekolah saya dan mengurangi beban orang tua,” kata Jolin dalam keterangan tertulis, Rabu, 10 Juni 2026.
Hal serupa disampaikan Aprillia Givanny, siswi SMK Maitreyawira jurusan Akuntansi. Menurutnya, bantuan PIP membantu memenuhi kebutuhan pendidikan, termasuk biaya transportasi dan perlengkapan sekolah.
“Kadang kondisi ekonomi keluarga naik turun. Saat sedang sulit, bantuan PIP benar-benar membantu,” lanjutnya.
Sementara itu, siswa SMK Maitreyawira lainnya, Alan Seven Cordiassimus Dakhi, mengaku bantuan PIP menjadi motivasi baginya untuk terus belajar dan meraih cita-cita di bidang teknologi informasi.
“Dengan PIP ini, saya semakin semangat belajar dan ingin menata masa depan yang lebih baik untuk membantu kondisi ekonomi keluarga,” ungkap Alan.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) Adhika Ganendra menyampaikan bahwa program PIP akan diintegrasikan dengan Program Keluarga Harapan (PKH) milik Kementerian Sosial dan KIP Kuliah milik Kementerian Pendidikan Tinggi.
Menurut Adhika, integrasi tersebut akan mempermudah akses bantuan pendidikan secara berkelanjutan bagi siswa dari keluarga penerima bantuan sosial.
“Jika keluarga siswa terdaftar sebagai penerima PKH, maka otomatis akan menerima PIP. Setelah lulus dan diterima di perguruan tinggi, mereka juga dapat langsung menerima KIP Kuliah,” ujar Adhika.
Selain itu, mulai tahun ajaran 2026/2027, cakupan PIP akan diperluas hingga jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) untuk mendukung program Wajib Belajar 13 Tahun. Program tersebut ditargetkan menjangkau lebih dari 888 ribu murid TK di seluruh Indonesia guna meningkatkan akses pendidikan sejak usia dini bagi keluarga kurang mampu.










