TVRINews, Jakarta
Sektor pariwisata Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif hingga September 2026. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 12,01 juta kunjungan sepanjang Januari hingga September 2026, meningkat 5,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan ketahanan sektor pariwisata di tengah dinamika global dan berbagai tantangan di dalam negeri.
"Di tengah berbagai dinamika global dan tantangan di dalam negeri, sektor pariwisata terus tumbuh, semakin berkualitas, dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional," kata Widiyanti saat menyampaikan Laporan Bulanan Kinerja Kementerian Pariwisata di Jakarta, Minggu, 8 November 2026.
Secara khusus, kunjungan wisman pada September 2026 tercatat sebanyak 1,43 juta, meningkat 2,31 persen dibandingkan September 2025.
Capaian tersebut diraih meskipun erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September sempat mengganggu penerbangan di delapan bandara dan memengaruhi perjalanan lebih dari 454 ribu penumpang. Melalui langkah mitigasi, dampak gangguan penerbangan tersebut berhasil diminimalkan.
Selain jumlah kunjungan, kualitas belanja wisatawan asing juga menunjukkan peningkatan. Rata-rata pengeluaran wisman per kunjungan atau Average Spending per Arrival (ASPA) pada triwulan III 2026 mencapai 1.374 dolar AS atau sekitar Rp23,52 juta. Angka tersebut tumbuh 5,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara, secara kumulatif Januari hingga September 2026, ASPA mencapai 1.336 dolar AS atau sekitar Rp22,36 juta, meningkat 6,18 persen.
Menurut Widiyanti, peningkatan tersebut menunjukkan semakin besarnya nilai ekonomi yang dihasilkan dari setiap kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Dari pasar domestik, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) juga mencatat pertumbuhan. Sepanjang Januari hingga September 2026, jumlah perjalanan wisnus mencapai 938,84 juta perjalanan, naik 4,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Khusus September 2026, tercatat 96,69 juta perjalanan atau meningkat 2,47 persen dibandingkan September 2025.
"Angka ini menunjukkan bahwa pasar domestik tetap menjadi kekuatan utama pariwisata Indonesia," ujar Widiyanti.
Peningkatan aktivitas wisata turut berdampak pada sektor perhotelan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada September 2026 mencapai 51,78 persen, naik 1,62 poin persentase dibandingkan September 2025.
Secara kumulatif, tingkat okupansi hotel berbintang pada Januari hingga September 2026 mencapai 49,81 persen, meningkat 2,23 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan sektor pariwisata juga tercermin dalam kinerja perekonomian nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 tumbuh 5,47 persen secara tahunan. Salah satu sektor terkait pariwisata, yakni akomodasi serta makanan dan minuman, mencatat pertumbuhan 11,22 persen.
Sektor jasa lainnya tumbuh 8,32 persen, transportasi dan pergudangan 8,03 persen, serta jasa perusahaan 6,77 persen. Keempat lapangan usaha tersebut secara keseluruhan menyumbang 1,07 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkirakan kontribusi sektor pariwisata mencapai sekitar 4,03 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional hingga triwulan III 2026.
"Capaian ini menegaskan bahwa pariwisata tidak hanya terus tumbuh, tetapi juga memainkan peran penting dalam menggerakkan perekonomian, menciptakan peluang usaha, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di berbagai destinasi," kata Widiyanti.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Kementerian Pariwisata juga mendorong penyelenggaraan acara internasional yang mampu mendatangkan wisatawan dan menggerakkan ekonomi lokal.
Sepanjang Oktober 2026, sejumlah acara besar seperti MotoGP Mandalika, konser Andrea Bocelli, dan konser Kanye West di Jakarta disebut memberikan dampak ekonomi signifikan.
MotoGP Mandalika 2026 menarik lebih dari 150 ribu penonton dengan estimasi perputaran ekonomi mencapai Rp5 triliun. Sementara, konser Andrea Bocelli di Borobudur dan Jakarta menarik sekitar 16 ribu penonton dengan perkiraan dampak ekonomi Rp792 miliar.
Adapun konser Kanye West di Jakarta menarik sekitar 70 ribu penonton, termasuk 25 ribu wisatawan asing dari 80 negara. Acara tersebut diperkirakan menghasilkan perputaran ekonomi Rp600 miliar dan melibatkan sekitar 5.000 tenaga kerja lokal.
Widiyanti menilai penyelenggaraan acara internasional tidak hanya meningkatkan citra destinasi, tetapi juga mendorong permintaan terhadap hotel, restoran, transportasi, produk lokal, serta membuka peluang usaha bagi masyarakat.
"Inilah mengapa kami terus mendorong Indonesia menjadi destinasi penyelenggaraan event internasional yang semakin kompetitif," tutur Widiyanti.










