TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menilai kompetensi guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teori dan praktik. Guru juga perlu memiliki kemampuan melihat peluang serta mengembangkan keterampilan menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat dalam Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Kejuruan Berbasis Dunia Kerja Moda Luring Angkatan 4 di BBPPMPV Pertanian Cianjur, Jawa Barat.
Sebanyak 147 guru SMK mengikuti pelatihan yang mencakup tujuh kompetensi keahlian, yakni Bakery & Pastry, Hidroponik Melon, Pengolahan Buah, Anggrek, Penetasan Telur, Hijauan Pakan Ternak, dan Rekayasa Pakan Buatan.
Atip mengatakan penguasaan kompetensi teknis perlu disertai business mindset, sehingga guru mampu melihat peluang dan menciptakan nilai tambah dari keterampilan yang dimiliki.
“Kalau kita punya kompetensi produksi tapi tidak bisa dikomersialisasi itu yang bikin frustasi. Akhirnya kompetensi hanya menutup basa-basi saja,” ujar Atip dalam keterangan tertulis, dikutip, Senin, 14 September 2026.
Menurutnya, business mindset tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan maupun keuntungan. Pola pikir tersebut juga mendorong seseorang untuk melihat berbagai kemungkinan agar keterampilan dan sumber daya yang tersedia dapat memberikan manfaat lebih luas.
Dalam bidang pertanian, misalnya, kompetensi guru dapat dikembangkan tidak hanya pada tahap produksi, tetapi juga ke sektor agribisnis hingga agrowisata. Karena itu, kemampuan teknis perlu diiringi pemahaman terhadap proses dari hulu hingga hilir.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin mengatakan pengalaman langsung di dunia kerja penting agar kompetensi yang diperoleh guru dapat diterapkan dalam pembelajaran.
“Yang paling penting di samping ngajar coba dipraktikkan. Karena kalau upskilling di sini, lalu pulang dan tidak pernah dipraktikkan di kelas, hanya lihat siswa, itu enggak akan banyak berkembang,”ungkap Tatang.
Tatang menilai kompetensi yang diperoleh selama pelatihan juga dapat dikembangkan menjadi praktik nyata dan peluang usaha yang melibatkan peserta didik. Karena itu, guru diharapkan tidak berhenti setelah mendapatkan pengetahuan dari pelatihan.
“Jadi, Bapak Ibu klik dengan ilmu dan kalau bisa diimplementasikan,”jelasnya.
Pelatihan tersebut berlangsung selama 120 jam pelajaran, yang terdiri atas 40 jam pembekalan, 70 jam pengalaman di dunia kerja, serta 10 jam untuk uji kompetensi dan sertifikasi.
Setelah mengikuti pembekalan, para guru akan mendapatkan pengalaman langsung di dunia kerja. Tahapan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami praktik, proses, serta budaya kerja di industri sebelum mengikuti uji kompetensi dan sertifikasi.
Kepala BBPPMPV Pertanian Cianjur Joko Ahmada Julifan mengatakan pelatihan berbasis dunia kerja menjadi bagian dari upaya peningkatan kompetensi guru kejuruan. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat dibawa kembali ke sekolah dan diterapkan dalam proses pembelajaran.
Tatang menambahkan, pengalaman tersebut juga dapat membantu mengubah pandangan peserta didik terhadap sektor pertanian yang selama ini masih kerap dianggap sebagai bidang konvensional.
“Kalau kita tunjukkan saya bisa berbuat seperti ini, maka anak-anak itu (berpikir), kok ternyata pertanian itu asik,”ucapnya.
Melalui pelatihan ini, peningkatan kompetensi guru diharapkan tidak berhenti pada penguasaan keterampilan.
Pengalaman dunia kerja dan business mindset juga diharapkan dapat diterapkan di sekolah, sehingga guru mampu menunjukkan kepada peserta didik bahwa keterampilan dapat dikembangkan menjadi produk, inovasi, maupun peluang usaha.










