TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui SEAMEO RECFON memasuki satu dekade pelaksanaan program Nutrition Goes to School (NGTS). Program ini mendorong pendidikan gizi di sekolah tidak hanya berhenti pada pembelajaran di kelas, tetapi diterapkan melalui berbagai kegiatan yang menjadi kebiasaan peserta didik.
Program NGTS diwujudkan melalui sejumlah kegiatan, seperti kebun sekolah, kantin sehat, pembiasaan perilaku gizi yang baik, serta edukasi mengenai kesehatan dan nutrisi. Pendekatan tersebut diharapkan membuat peserta didik tidak hanya memahami pentingnya gizi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selama 10 tahun pelaksanaannya, NGTS telah memberikan pelatihan gizi dan kesehatan kepada lebih dari 3.500 guru dan tenaga kependidikan dari 2.430 sekolah. Sebanyak 279 sekolah dan madrasah juga telah mendapatkan pendampingan teknis di Indonesia dan Asia Tenggara.
Selain itu, program NGTS telah melahirkan 42 Model Sekolah/Madrasah NGTS Mandiri yang tersebar di tujuh wilayah dampingan di Indonesia.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan persoalan gizi anak di Indonesia perlu direspons dengan menjadikan sekolah sebagai salah satu agen perubahan.
“Yang paling penting dalam konteks Indonesia saat ini adalah tidak hanya kekurangan gizi pada anak-anak, ada juga yang berlebih, dan sekaligus ada tantangan terkait kekurangan gizi mikro. Jadi, ini bagian penting yang ingin kita respons melalui sekolah sebagai agen perubahan,” ujar Tatang dalam keterangan tertulis, dikutip, Selasa, 25 Agustus 2026.
Menurut Tatang, sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran dan kebiasaan hidup sehat pada anak melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan mereka.
“Dengan adanya program ini, harapannya nanti di sekolah ada perubahan terkait bagaimana anak-anak mendapatkan gizi yang terbaik, tidak kelebihan, tidak kekurangan, dan juga terkait gizi mikro,”lanjutnya.
Ia menambahkan, berbagai praktik tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai gizi sekaligus mendorong mereka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Itu menjadi bagian untuk memastikan bagaimana anak-anak lebih aware, lebih paham terkait gizi, dan selanjutnya juga bagaimana mempraktikkannya dalam keseharian,”ucapnya.
Praktik Gizi melalui Kebun dan Kantin Sehat
Salah satu sekolah yang menerapkan program NGTS adalah SMA Negeri 1 Singosari, Jawa Timur. Guru Biologi sekaligus tim NGTS, Zainal Fanani, mengatakan sekolah mengintegrasikan pendidikan gizi melalui sejumlah kegiatan, mulai dari kantin sehat, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), edukasi gizi, kebun sekolah hingga kewirausahaan.
“Implementasi NGTS yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Singosari meliputi kantin sehat, pembiasaan praktik gizi baik, edukasi gizi, kebun sekolah , serta kewirausahaan,”ungkap Zainal Fanani.
Melalui kebun sekolah, siswa tidak hanya diperkenalkan dengan berbagai jenis tanaman, tetapi juga diajak memahami proses pengolahan hasil panen.
“Di kebun sekolah, kita menyediakan tanaman, termasuk pengolahan pasca panennya,”tandasnya.
Pembiasaan hidup sehat juga dilakukan melalui kegiatan senam setiap Jumat. Sementara itu, kantin sekolah tersebut berhasil meraih penghargaan sebagai kantin sehat nasional juara dua di regional barat.
Kepala SMA Negeri 1 Singosari, Sri Endang Hidajati, menilai keberhasilan pendidikan gizi tidak cukup hanya terlihat dari pemahaman siswa selama berada di sekolah. Menurutnya, kebiasaan baik tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungan keluarga.
“Harapan saya, edukasi gizi kepada murid-murid SMA Negeri 1 Singosari tidak hanya terbatas di ruang sekolah, tetapi juga bisa diimplementasikan di mana pun anak-anak berada, termasuk bekerja sama dengan orang tua untuk mendukung pelaksanaan edukasi gizi ini,” kata Sri.
Sekolah Jadi Penggerak Praktik Gizi
Direktur SEAMEO RECFON, Rini Sekartini, mengatakan NGTS selama satu dekade tidak hanya berfokus pada edukasi gizi, tetapi juga mendorong sekolah menciptakan praktik baik yang dapat dilakukan secara berkelanjutan.
“Hari ini adalah 10 tahun perjalanan NGTS. Tadi kita ketahui bersama bahwa programnya intinya adalah gizi pada anak sekolah, bukan hanya edukasi, tetapi juga praktik baik yang bisa dilakukan, terutama oleh sekolah,” ujar Rini.
Menurut Rini, guru dan kepala sekolah menjadi penggerak utama pelaksanaan program karena sekolah merupakan pusat penerapan berbagai praktik gizi.
“Karena penggeraknya ada di sekolah dan dipelopori oleh para guru dan kepala sekolah,”tambahnya.
Praktik yang dikembangkan sekolah juga beragam, mulai dari kebun hingga peternakan yang hasilnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan asupan gizi peserta didik.
“Jadi, semuanya bervariasi, bukan hanya edukasi tetapi juga implementasi. Seperti ada yang membuat kebun, kemudian ada peternakan yang hasilnya bisa digunakan oleh anak-anak untuk mendapatkan asupan nutrisi yang baik,” tuturnya.
Rini menegaskan, pemenuhan gizi menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak sekaligus investasi bagi masa depan Indonesia.
“Gizi itulah pondasi utama untuk tumbuh kembang anak dan menjadi investasi untuk masa depan, supaya anaknya sehat, kreatif, dan juga memiliki jiwa besar untuk memajukan Indonesia nantinya,”pungkasnya.
Memasuki dekade kedua, program NGTS diharapkan dapat memperluas praktik baik pendidikan gizi berbasis sekolah di Indonesia. Program ini juga membuka peluang pertukaran pengalaman dengan negara-negara Asia Tenggara agar kebiasaan hidup sehat dan praktik gizi dapat terus berkembang serta menjadi bagian dari budaya sekolah secara berkelanjutan.










