TVRINews, Jakarta
Misi Kemanusiaan di Nusa Tenggara Timur: TNI AL Kerahkan Armada Penuh Atasi Dampak Bencana
Di tengah tantangan geografis wilayah kepulauan, TNI Angkatan Laut mempercepat operasi kemanusiaan bagi korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur. Melalui Operasi Militer Selain Perang, komando maritim mengerahkan armada tempur dan logistik untuk menjangkau titik-titik isolasi terluar.
Hingga Kamis 20 Agustus 2026, operasi darurat ini melibatkan pengerahan lima Kapal Republik Indonesia, dua helikopter taktis, serta ratusan personel Korps Marinir. Langkah strategis tersebut diambil guna memastikan jalur pasokan bantuan lintas pulau tetap berfungsi optimal di tengah gelombang tinggi dan medan yang menantang.
Dinas Penerangan Angkatan Laut dalam keterangan resminya menyatakan bahwa armada rumah sakit terapung KRI dr. Soeharso-990 telah diberangkatkan menuju Pelabuhan Reo, Manggarai. Kapal tersebut mengangkut 217 personel Marinir bersama tim kesehatan lapangan, alat berat berupa dozer dan ekskavator, serta tenda rumah sakit lapangan guna mendirikan pos penanganan medis darurat.
"Aksi tanggap cepat ini merupakan wujud nyata komitmen TNI AL untuk selalu hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan, khususnya dalam memberikan penanganan darurat bencana dan memastikan penyaluran bantuan kemanusiaan dapat menjangkau seluruh kawasan terdampak," demikian keterangan resmi Dinas Penerangan Angkatan Laut.
Selain armada medis terapung, operasi ini juga didukung oleh KRI Hiu-634 yang menyalurkan bantuan logistik hasil sinergi lintas lembaga bersama Bank Indonesia dan Persatuan Bedah Indonesia.
Sementara itu, KRI Bung Hatta-370 disiagakan di Dermaga Reo untuk memperkuat simpul logistik kawasan, disusul pergerakan KRI Teluk Parigi-539 dan KRI Teluk Celukan Bawang-532 yang membawa belasan armada truk BNPB serta 22 ton bahan kontak dari Surabaya.
Dari sektor udara, Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut memaksimalkan misi pendorongan logistik menggunakan dua unit helikopter Bell 412. Armada udara ini fokus mendistribusikan ratusan kilogram bahan pangan pokok yang melintasi rute udara Labuan Bajo, Ende, hingga Reo.
Di darat, personel Komando Daerah Maritim VII bersama Pangkalan TNI AL Maumere dan Labuan Bajo mendirikan posko penanggulangan bencana. Bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, unsur kewilayahan tersebut mengevakuasi ribuan warga menuju lokasi pengungsian yang lebih aman sekaligus membuka akses darat bagi distribusi bantuan lanjutan.










