TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama PT Pertamina (Persero) saat ini tengah mengkaji peluang pengembangan teknologi tersebut untuk mendukung pemanfaatan sumber daya domestik. Di mana, Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) mulai dilirik sebagai bahan baku bioetanol generasi kedua (2G).
Pembahasan mengenai rencana tersebut berlangsung dalam pertemuan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dengan Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza beserta jajaran.
Dalam pertemuan tersebut, Brian menyampaikan hasil penjajakan dengan Praj Industries asal India. Perusahaan itu menawarkan teknologi pengolahan TKKS menjadi bioetanol serta opsi pembangunan pilot plant berkapasitas kecil.
Sebelum dikembangkan lebih jauh, teknologi tersebut akan melalui kajian dari berbagai sisi. Mulai dari kesiapan teknologi, kebutuhan investasi, aspek keekonomian, hingga kemungkinan penerapannya dengan karakteristik bahan baku yang tersedia di Indonesia.
Brian mengatakan, pengujian dalam skala kecil diperlukan agar karakteristik TKKS Indonesia dapat dipahami secara lebih mendalam sebelum masuk ke tahap pengembangan berikutnya.
“Kita coba dulu dalam skala kecil, supaya kita bisa memahami betul parameter tandan kosong kelapa sawit Indonesia dan memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan benar-benar dapat memberikan nilai tambah bagi sumber daya yang kita miliki,” ujarnya kutip Kamis, 20 Agustus 2026.
Indonesia memiliki potensi TKKS yang cukup besar karena menjadi salah satu negara dengan industri kelapa sawit yang luas. Bahan tersebut juga berasal dari perkebunan rakyat, sehingga pemanfaatannya berpotensi menciptakan nilai ekonomi tambahan tanpa perlu melakukan pembukaan lahan baru.
Dari sisi Pertamina, pengalaman penelitian terkait TKKS juga menjadi bagian dari pembahasan. Pertamina telah melakukan sejumlah kajian bersama mitra, terutama terkait proses pengolahan, pre-treatment, dan penggunaan enzim.
Oki menilai Indonesia tidak cukup hanya memiliki bahan baku yang melimpah. Penguasaan teknologi pengolahannya juga diperlukan agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Tujuan kami, kalau bisa kita punya teknologi sendiri. Kita punya potensi bahan baku yang besar, sehingga teknologinya juga perlu kita kuasai,” katanya.
Selain persoalan teknologi, keberlangsungan pasokan TKKS menjadi tantangan lain yang perlu disiapkan. Bahan baku tersebut tersebar di sejumlah sentra produksi kelapa sawit, termasuk perkebunan rakyat. Sistem pengumpulan, harga, dan distribusi perlu ditata agar kebutuhan industri dapat dipenuhi secara konsisten.
Pengembangan industri bioetanol juga diharapkan mampu menciptakan manfaat bagi masyarakat yang berada dalam rantai pasok. Karena itu, model pengelolaan bahan baku perlu memperhatikan kepentingan petani maupun pelaku usaha yang terlibat.
Untuk memperkuat pengembangan tersebut, Kemdiktisaintek dan Pertamina membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi serta lembaga riset. Kerja sama dapat mencakup pengembangan teknologi, tata kelola bahan baku, logistik, hingga penyusunan model bisnis.
Upaya tersebut diharapkan dapat mempercepat perjalanan inovasi dari tahap riset menuju penerapan industri. Pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku bioetanol juga menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi sumber daya dalam negeri sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.










