TVRINews, Wakatobi
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq menegaskan komitmen pemerintah dalam memastikan pemerataan pendidikan yang aman, nyaman, dan bermutu bagi anak-anak di wilayah kepulauan, salah satunya dengan meninjau pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah serta Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Maritim Mola yang berdiri di atas laut permukiman Suku Bajo.
Sekolah ini kini menyambut para murid baru dengan lingkungan belajar yang jauh lebih baik berkat program revitalisasi pemerintah, mulai dari pembangunan ruang kelas baru, perpustakaan, hingga penyediaan teknologi papan interaktif digital.
Suasana hangat langsung terasa ketika Wamen Fajar Riza Ul Haq menyapa 30 murid dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Kamis, 16 Juli 2026. Alih-alih menyampaikan ceramah panjang, ia memilih berdialog santai mengenai asal daerah, teman baru, hingga menu makan siang yang membuat para murid antusias menjawab dan mencairkan suasana.
Perhatian khusus juga diberikan kepada Bayu, seorang murid berkebutuhan khusus yang tengah mengikuti kegiatan MPLS. Wamen Fajar mengajak guru dan seluruh murid untuk terus mendampingi agar ia merasa diterima dan memiliki ruang yang sama untuk belajar. Pendekatan inklusif ini menjadi bagian penting dari pelaksanaan MPLS Ramah di SMP Maritim Mola yang menanamkan budaya saling menghargai sejak hari pertama.
“Kami sangat menekankan anti bullying saat MPLS. Hal ini juga agar mereka merasa tidak terintimidasi dan merasa diterima di sekolah,” ujar Satria, salah seorang guru di SMP Maritim Mola.
Suasana ramah tersebut kini didukung oleh lingkungan belajar yang semakin nyaman. Sebelum direvitalisasi, kondisi sekolah mengalami banyak kerusakan seperti atap bocor dan lantai rapuh yang mengganggu proses belajar.
Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, SMP Maritim Mola memperoleh anggaran sekitar Rp2,96 miliar untuk membangun empat ruang kelas baru, perpustakaan, ruang administrasi, ruang UKS, dua unit toilet, serta merehabilitasi laboratorium IPA.

"Sebelum rehabilitasi, ruang kelas kami memang luar biasa rusak. Saat ini kami lebih nyaman melaksanakan pembelajaran dan murid juga merasa lebih aman. Dulu kalau hujan proses belajar sering terganggu, tetapi sekarang sekolah jauh lebih nyaman," ujar Satria.
Tidak hanya fasilitas fisik, para murid juga merasakan perhatian pemerintah melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam dialog bersama Wamen Fajar, beberapa murid mengaku baru pertama kali mencicipi buah melon dan semangka dari menu yang disajikan di sekolah. Bagi Fajar, pengalaman sederhana ini menunjukkan bahwa program MBG sukses memperkaya pengalaman konsumsi makanan bergizi anak-anak di wilayah pesisir.
Pengalaman belajar murid pun semakin menarik dengan hadirnya Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital. Fasilitas teknologi ini dinilai membuat materi pembelajaran menjadi jauh lebih mudah dipahami oleh para siswa.
"Kalau pakai IFP, pelajaran bisa lebih jelas, nyaman, dan lebih nampak. Kalau dulu belajar biasanya harus maju ke depan untuk melihat gambar," ungkap salah seorang murid.
Menurut Wamen Fajar, kehadiran teknologi pembelajaran modern ini menjadi bukti nyata bahwa kualitas pendidikan tidak lagi ditentukan oleh letak geografis sekolah.

"Adik-adik yang tinggal di Wakatobi bisa jadi orang-orang hebat di Indonesia. Jangan kalah sama orang Jakarta," ujarnya. Ia menegaskan bahwa materi pembelajaran yang diakses murid di Wakatobi kini setara dengan anak-anak yang berada di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, maupun Surabaya.
SMP Maritim Mola berdiri di tengah permukiman masyarakat Suku Bajo, di mana banyak murid yang sepulang sekolah harus membantu orang tua melaut. Karena itu, menghadirkan sekolah yang aman dan menyenangkan menjadi prioritas untuk memastikan anak-anak kepulauan memiliki kesempatan belajar yang sama.
Usai mengunjungi sekolah tersebut, Wamendikdasmen melanjutkan peninjauan ke SMA Muhammadiyah 1 Wakatobi yang juga terletak di atas perairan dan telah menerima program revitalisasi pada tahun 2025 lalu. Kunjungan kerja ini memperlihatkan komitmen pemerintah dalam mendorong pemerataan pendidikan yang aman, nyaman, dan bermutu di seluruh penjuru Indonesia.










