TVRINews, Jakarta
Penguatan ketahanan air nasional membutuhkan pendekatan yang menggabungkan konservasi lingkungan, pemanfaatan teknologi, dan pemerataan akses air bersih, terutama bagi masyarakat di wilayah pesisir, kepulauan, dan daerah terpencil.
Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Lume Carbon, Rio Fafen Ciptaswara, dalam Panel Diskusi Strategi dan Inovasi Ketahanan Air Jangka Panjang di Indonesia pada Indonesian Youth SDGs Summit (IYSDGS) 2026 yang berlangsung di Auditorium Abdurahman Saleh, RRI Jakarta, 4 Juli 2026, lalu.
Rio mengatakan tantangan Indonesia tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sumber daya air, tetapi juga memastikan akses air bersih dapat dinikmati secara merata. Menurutnya, karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan memerlukan solusi yang berbeda dibandingkan daerah perkotaan yang telah memiliki infrastruktur air lebih baik.
"Ketahanan air bukan hanya tentang mengolah sumber daya air, tetapi memastikan masyarakat, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan, memperoleh akses terhadap air bersih yang layak. Melalui inovasi teknologi dan kolaborasi lintas sektor, kami ingin memastikan proyek Blue Carbon juga memberikan manfaat sosial yang nyata," ujar Rio, dalam keterangan yang diterima redaksi, Selasa, 14 Juli 2026.
Dalam paparannya, Rio menjelaskan Lume Carbon saat ini menjajaki pengembangan proyek Blue Carbon bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Program tersebut tidak hanya berfokus pada konservasi ekosistem pesisir, tetapi juga diarahkan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penyediaan infrastruktur dasar, termasuk akses air bersih.
Proyek tersebut mencakup rehabilitasi lamun di Indonesia Timur dan pengembangan kawasan pesisir Pantai Utara Jawa. Rio menjelaskan proyek Blue Carbon mengedepankan prinsip high integrity, dengan 60 persen manfaat ekonomi (benefit sharing) dialokasikan bagi masyarakat di sekitar lokasi program.
Untuk mendukung ketahanan air nasional, Lume Carbon mengembangkan sejumlah teknologi yang dapat diterapkan sesuai karakteristik wilayah. Teknologi tersebut meliputi sistem filtrasi air untuk meningkatkan akses air bersih, pengolahan grey water agar dapat dimanfaatkan kembali, pemanfaatan teknologi Brackish Water Reverse Osmosis (BWRO) untuk mengolah air payau di kawasan pesisir, serta Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) berbasis kontainer bertenaga surya yang dirancang melayani pulau-pulau kecil dan daerah terpencil.
Selain itu, perusahaan juga mengembangkan riset teknologi membran SWRO yang lebih efisien dan terjangkau agar pengolahan air laut dapat diterapkan secara lebih luas di berbagai wilayah Indonesia.
Rio juga menyinggung pengalaman Singapura dalam membangun ketahanan air melalui program SingSpring dan NEW Water. Menurutnya, investasi jangka panjang pada teknologi pengolahan air menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat ketahanan air nasional. Indonesia dinilai memiliki potensi mengembangkan pendekatan serupa dengan menyesuaikan kondisi geografis dan kebutuhan setiap daerah.
Indonesian Youth SDGs Summit (IYSDGS) 2026 mengusung tema "Next-Gen Solutions for Energy and Food Security". Forum tersebut mempertemukan unsur pemerintah, organisasi internasional, akademisi, sektor swasta, dan generasi muda untuk membahas berbagai solusi berkelanjutan dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Forum tersebut juga dihadiri Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno, Perwakilan FAO PBB untuk Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal, serta Prof. Emil Salim yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan pembangunan berkelanjutan.










