TVRINews, Denpasar
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat kontribusi mahasiswa dalam pembangunan masyarakat melalui Program Aksara Mahasiswa. Program ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat dengan memanfaatkan hasil riset dan inovasi perguruan tinggi.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, mengatakan jika program tersebut disosialisasikan dalam kegiatan Program Mahasiswa Berdampak: Aksara Mahasiswa yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) di Universitas Mahasaraswati Denpasar.
Selain itu, Aksara Mahasiswa atau Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak. Melalui skema ini, mahasiswa didorong menjadi penghubung antara dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat sehingga hasil penelitian di perguruan tinggi dapat diterapkan secara nyata.
Ia juga menyebutkan, jika lahirnya program tersebut didasarkan pada tingginya minat mahasiswa dan perguruan tinggi dalam mengikuti Program Mahasiswa Berdampak tahun 2025. Di mana, ada sebanyak 957 proposal dari 199 perguruan tinggi tercatat mengikuti program tersebut. Dari jumlah itu, 263 proposal berhasil memperoleh pendanaan untuk diimplementasikan di masyarakat.
Menurut Fauzan, tingginya partisipasi tersebut menunjukkan besarnya semangat mahasiswa untuk terlibat dalam penyelesaian persoalan sosial.
“Di sini, mahasiswa berperan sebagai pemimpin. Mereka mendengarkan, membangun ide-ide, kemudian menjadi pelaksana di lapangan, serta memberikan umpan balik kepada kampus tentang bagaimana peran kampus di masyarakat dapat dibangun dengan baik,” ujar Fauzan kutip Kamis, 30 Juli 2026
Ia menjelaskan, Aksara Mahasiswa mengedepankan pendekatan living lab, yaitu menjadikan masyarakat sebagai ruang belajar bagi mahasiswa. Melalui pendekatan ini, mahasiswa diajak memahami persoalan secara langsung sebelum menyusun solusi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
Fauzan menilai model tersebut mampu memperkuat hubungan antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mempercepat pemanfaatan hasil riset perguruan tinggi.
Program ini juga mendorong kolaborasi lintas disiplin. Mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan diharapkan bekerja bersama agar solusi yang dihasilkan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial, budaya, hingga pemberdayaan masyarakat.
Sebagai bagian dari implementasi program, Kemdiktisaintek menghadirkan skema Aksara Sirkular. Pada 2026, Kota Denpasar ditetapkan sebagai salah satu lokasi prioritas dengan fokus pada pengelolaan sampah melalui penerapan sains, teknologi, inovasi, dan transformasi sosial.
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Ditjen Risbang Kemdiktisaintek, I Ketut Adnyana, mengatakan mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai penggerak perubahan apabila didukung oleh perguruan tinggi dan pendampingan dosen.
“Mahasiswa mempunyai posisi yang sangat terhormat, strategis, dan mulia di tengah masyarakat. Potensi, pemikiran, idealisme, dan energi mahasiswa harus kita manfaatkan untuk membantu memecahkan permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat dengan berbasis pada sains, teknologi, dan inovasi yang dihasilkan oleh dosen-dosen di perguruan tinggi,” kata Adnyana.
Melalui Aksara Mahasiswa, mahasiswa tidak hanya diminta melaksanakan kegiatan pengabdian, tetapi juga mengidentifikasi persoalan masyarakat untuk kemudian menjadi bahan pengembangan riset di perguruan tinggi. Hasil penelitian tersebut selanjutnya diharapkan kembali diterapkan sebagai solusi bagi masyarakat, sehingga tercipta siklus inovasi yang berkelanjutan.
Rektor Universitas Mahasaraswati Denpasar, I Ketut Sukewati Lanang Putra Perbawa, menilai keberhasilan program tersebut membutuhkan sinergi berbagai pihak. Menurutnya, implementasi kebijakan akan lebih efektif apabila melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, dan sektor industri.
Melalui Program Aksara Mahasiswa, Kemdiktisaintek berharap semakin banyak mahasiswa yang mampu mengembangkan kepemimpinan, memperkuat kolaborasi lintas disiplin, serta menghasilkan solusi berbasis riset yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Program ini juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan semangat Diktisaintek Berdampak, yang menempatkan pendidikan tinggi sebagai motor penghasil inovasi untuk pembangunan nasional.









