TVRINews, Lampung Selatan
Aktivitas masyarakat di Pulau Sebesi, Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan kini kembali normal usai Gunung Anak Krakatau erupsi beberapa hari lalu. Meski demikian, warga mengaku tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama pada malam hari, lantaran peristiwa tersebut kembali mengingatkan mereka pada musibah tsunami Selat Sunda 2018 lalu.
Salah seorang warga Desa Tejang, Syahbudin mengungkapkan bahwa warga mengetahui terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau pada 4 September lalu. Sebagian warga bahkan melihat langsung aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Pulau Sebesi. Sebelum semburan terlihat, menurut dia, asap lebih dahulu muncul dari arah gunung.
“Gunungnya kelihatan pas menyembur itu warnanya merah. Terus kalau tanda awal itu kan asap dulu. Setelah itu ada dentuman. Setelah dentuman keluar, dia mengeluarkan abu sama kayak api gitu,” kata Syahbudin dalam keterangan yang diterima, Selasa 8 September 2026.
Fenomena tersebut menarik perhatian masyarakat. Sejumlah warga bahkan berbondong-bondong keluar untuk melihat aktivitas Anak Krakatau dari kejauhan dan mengabadikannya menggunakan telepon genggam.
Menurut Syahbudin, situasi menjadi lebih mencemaskan ketika malam tiba. Dari Pulau Sebesi, pancaran cahaya dari aktivitas vulkanik membuat langit di sekitar Gunung Anak Krakatau tampak berwarna merah.
“Posisinya gelap itu, terus langitnya merah. Merah itu karena adanya cahaya dari abu itu, dari lava itu,” ujarnya.

Namun, ketika kembali melakukan pemantauan pada malam 7 September, Syahbudin menyebut kondisi Anak Krakatau terlihat berbeda. Tidak tampak lagi abu maupun pancaran merah seperti saat erupsi sebelumnya.
“Kalau sekarang ya alhamdulillah ini sudah nggak ada abunya. Terus kemudian juga sudah nggak erupsi. Mudah-mudahan sudah nggak ada erupsi-erupsi lagi,” katanya.
Ia mengatakan, apabila terjadi aktivitas erupsi pada malam hari, biasanya cahaya kemerahan dari arah gunung dapat terlihat cukup jelas dari Pulau Sebesi.
“Kalau ada erupsi, terlihat merah. Terus langitnya juga kan merah. Tapi ini terlihat sudah nggak ada abu, terus juga sudah nggak erupsi,” ujarnya.
Erupsi sebelumnya, kata Syahbudin, tidak hanya terlihat dari kejauhan. Abu vulkanik juga sempat masuk hingga kawasan permukiman warga Pulau Sebesi.
Ia bahkan harus beberapa kali membersihkan rumahnya akibat material abu berwarna hitam yang jatuh sejak pagi hingga malam.
“Untuk soal debu, saya sendiri di rumah nyapu sampai berkali-kali. Debunya hitam banget. Terus kemudian dari pagi sampai malam itu,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, menurut dia, sempat menimbulkan kepanikan. Selain abu yang cukup pekat, suasana pada sore hari juga menjadi lebih gelap.
“Itu yang bikin panik karena abu itu. Terus kemudian langitnya merah. Posisinya di sore harinya itu gelap karena abu. Nah, itu yang jadi masyarakat panik karena mengingat kejadian tahun 2018,” kata Syahbudin.
Abu vulkanik tersebut turut mengganggu aktivitas masyarakat. Pada saat kejadian, Palang Merah Indonesia (PMI) disebut sempat membagikan masker kepada warga.
“Kalau debu itu sendiri mengganggu. Dari PMI sempat membagikan masker pas hari kejadian pertama,” ujarnya.
Meski sempat diliputi kekhawatiran, Syahbudin menyebut kegiatan sehari-hari masyarakat Pulau Sebesi secara umum tetap berjalan normal.
“Kalau untuk aktivitas itu sendiri ya kita biasa-biasa aja, masih normal-normal aja. Cuma di malam hari saja kita yang mengurangi aktivitas,” katanya.
Pada malam hari, warga memilih meningkatkan kewaspadaan. Menurut Syahbudin, masyarakat bahkan diimbau agar tidak tidur terlalu lelap apabila sewaktu-waktu terjadi perubahan kondisi.
Ketika ditanya mengenai trauma masyarakat terhadap peristiwa tersebut, Syahbudin mengakui rasa itu masih tersisa. Kendati demikian, masyarakat berupaya tetap menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa.
“Alhamdulillah kalau untuk warga Sebesi ya biasa-biasa aja. Walaupun ada erupsi Gunung Krakatau itu, kita tetap melakukan aktivitas seperti biasa,” ujarnya.
Syahbudin menceritakan bahwa pemerintah desa juga telah memberikan imbauan kepada masyarakat sejak erupsi pertama terjadi. Warga diminta meningkatkan kewaspadaan serta menghindari berada terlalu dekat dengan kawasan pantai, khususnya pada malam hari.
“Pemerintah desa pada saat erupsi pertama mengimbau kepada masyarakat untuk tidak berada dekat pinggir pantai. Kemudian harus waspada di tengah malam,” katanya.
Menurut dia, perhatian khusus diberikan kepada warga yang rumahnya berada di kawasan pesisir.
“Masyarakat yang ada di pesisir pantai, dekat pantai itu, diharapkan untuk jauh dari lokasi yang paling dekat dengan Anak Gunung Krakatau. Setidaknya mereka diarahkan untuk mengungsi kalau memang diperlukan,” ujarnya.










