TVRINews, Jakarta
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai kajian mengenai potensi sumber gempa di Pulau Jawa masih perlu diperkuat, mengingat karakteristik sesar aktif di wilayah tersebut belum sepenuhnya terpetakan secara detail.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Prof. Danny Hilman Natawidjaja, menyebut kompleksitas struktur geologi di Jawa membuat tingkat ketidakpastian terhadap sumber gempa masih cukup tinggi dan memerlukan riset berkelanjutan.
“Pengetahuan kita mengenai sesar aktif di Jawa masih menyimpan banyak ketidakpastian. Ada sejumlah sesar yang sudah diketahui, tetapi karakteristik pentingnya seperti laju pergeseran, segmentasi, hingga magnitudo maksimum masih belum sepenuhnya dipahami,” ujar Danny, dikutip dari laman BRIN, Selasa, 9 Juni 2026.
Ia menjelaskan, salah satu sistem patahan yang menjadi perhatian adalah Java Back-Arc Thrust yang membentang di wilayah utara Jawa, mulai dari Jakarta hingga Surabaya dan berpotensi memengaruhi aktivitas kegempaan di kawasan tersebut.
Menurutnya, selama ini wilayah utara Jawa cenderung dipersepsikan lebih aman dibandingkan selatan Jawa yang berada dekat zona subduksi. Namun, temuan dan kajian terbaru menunjukkan perlunya evaluasi ulang terhadap tingkat kerawanan di kawasan tersebut.
Tim peneliti BRIN juga melaporkan adanya indikasi struktur sesar aktif baru serta perubahan segmentasi geologi di sekitar Gunung Ciremai, yang memperkaya data kebencanaan di Indonesia.
“Setiap bukti geologi baru dapat mengubah pemahaman kita mengenai sumber gempa. Dampaknya mungkin tidak terlalu besar pada skala regional, tetapi dapat signifikan bagi penilaian bahaya di tingkat lokal,” kata Danny.
Ia menambahkan, keberadaan sesar aktif tidak hanya berpotensi memicu gempa bumi, tetapi juga dapat menimbulkan dampak ikutan seperti longsor, likuefaksi, tsunami lokal, hingga pergeseran permukaan tanah yang merusak infrastruktur vital.
“Bangunan dapat dirancang tahan gempa, tetapi sangat sulit dirancang untuk menahan pergeseran permukaan tanah hingga beberapa meter akibat aktivitas sesar,” ujarnya.
Danny menyoroti pentingnya kebijakan berbasis risiko, termasuk pembatasan pembangunan di zona sesar aktif seperti yang telah diterapkan di sejumlah negara, antara lain Jepang, Taiwan, Selandia Baru, dan Amerika Serikat.
Namun demikian, ia mengakui implementasi kebijakan serupa di Indonesia masih menghadapi tantangan utama berupa keterbatasan data rinci mengenai karakteristik dan sebaran sesar aktif.
“Risiko merupakan fungsi dari bahaya, paparan, dan kerentanan. Karena itu, peningkatan kualitas data bahaya, termasuk pemetaan sesar aktif serta pemahaman siklus gempa dan tsunami, menjadi fondasi penting untuk penilaian risiko yang lebih akurat,” pungkasnya.










