TVRINews, Jakarta
Pemerintah mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah dengan memanfaatkan potensi hujan. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan curah hujan menjadi faktor penting dalam membantu proses pemadaman titik api.
Menurut Raja Juli, pemerintah tidak hanya mengandalkan hujan yang turun secara alami. Potensi awan yang terpantau di sejumlah wilayah juga dimanfaatkan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC).
“Kalau melihat pengalaman penanganan karhutla dari tahun ke tahun, hujan menjadi cara yang paling efektif untuk membantu memadamkan kebakaran. Karena itu, selama masih ada potensi awan hujan, kami akan optimalkan,” ujar Raja Juli, Kamis, 27 Agustus 2026.
Salah satu wilayah yang masih memiliki peluang untuk dilakukan modifikasi cuaca yakni Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Keberadaan bibit awan hujan di kawasan tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan curah hujan di lokasi yang membutuhkan.
“Di Berau masih ada bibit awan hujan. Potensi seperti ini yang terus kami lihat dan manfaatkan dalam operasi modifikasi cuaca,” katanya.
OMC saat ini diarahkan ke sejumlah provinsi yang masih menghadapi persoalan karhutla. Operasi tersebut mencakup wilayah Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Pelaksanaannya melibatkan sejumlah instansi, di antaranya BNPB, BMKG, TNI AU, BRIN, serta pemerintah daerah. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memperkuat upaya pengendalian kebakaran sekaligus mengantisipasi penyebaran titik api.
Sementara itu, BMKG mengeluarkan prakiraan adanya hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat pada periode 27-29 Agustus 2026.
Namun, potensi hujan tersebut juga perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan dampak lain bagi masyarakat. BMKG mencatat hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat dapat menyebabkan genangan, luapan sungai, hingga longsor.
Pada kondisi hujan lebat hingga sangat lebat, risiko dapat meningkat menjadi banjir, banjir bandang, dan longsor. Sedangkan hujan sangat lebat hingga ekstrem berpotensi mengganggu layanan publik, menyebabkan kerusakan infrastruktur, serta membahayakan keselamatan masyarakat.
Pemerintah mengingatkan masyarakat di daerah yang berpotensi mengalami cuaca ekstrem agar tetap waspada terhadap perubahan kondisi cuaca dan kemungkinan bencana hidrometeorologi.
Di tengah potensi hujan tersebut, pemerintah berharap OMC dapat membantu menambah curah hujan di wilayah prioritas sehingga penanganan karhutla dapat berlangsung lebih efektif.










