TVRINews – Makkah
400 Tahun Dinasti Utsmaniyah Lindungi Jemaah Haji dari Serangan Badui, Bangun Ka'bah Ulang, tapi Para Sultan Tak Pernah Berangkat
Selama lebih dari 400 tahun, Kekaisaran Ottoman (Utsmaniyah) menjadi pengatur utama ibadah haji bagi dunia Islam. Namun, di balik gelar prestisius “Pelayan Dua Tanah Suci” (Haramayn), tersimpan sejarah berdarah, intrik politik, dan diplomasi dengan bandit gurun suku Badui yang kerap menyerang rombongan jemaah.
Setiap musim haji, ancaman bukan datang dari kelalaian jemaah, tetapi dari kelompok bersenjata yang menuntut “upeti emas” agar tidak menyerang. Jika pembayaran telat, jemaah pun jadi sasaran perampokan brutal. Pada 1701 dan 1757, ribuan jemaah tewas dan ditawan oleh suku-suku Arab yang kecewa atas jumlah “surre” uang dan hadiah yang dibawa dari Istanbul.
Dalam satu kejadian luar biasa tahun 1625, seorang wanita Badui membius para penjaga benteng Muazzama dengan permen bercampur obat tidur. Ketika mereka tertidur, sukunya merampok seluruh benteng. Bahkan Masjidil Haram pun tak luput dari kekacauan. Catatan pelancong Evliya Çelebi mengisahkan bagaimana jemaah diserang saat sedang dalam keadaan ihram, tak bersenjata dan tengah tawaf.
Untuk menjamin keamanan, para pemimpin Ottoman seperti emir-i hajj (komandan kafilah haji) bernegosiasi langsung dengan para pemimpin suku Badui. Mereka mengirim hadiah, emas, bahkan terkadang tawanan sandera sebagai jaminan damai. Beberapa benteng dibangun, meriam disiapkan, namun tetap tak cukup menahan kejamnya padang pasir.
Meski keamanan menjadi taruhan, sultan-sultan Ottoman tak satu pun pernah menunaikan haji. Hanya Cem Sultan, yang melakukannya saat hidup di pengasingan. Para sultan terlalu dibutuhkan di pusat kekuasaan Istanbul, mengingat risiko politik dan perang dengan Persia atau Habsburg terlalu besar jika mereka pergi berbulan-bulan.
Namun, bukan berarti mereka tak meninggalkan jejak. Ka’bah direstorasi total pada masa Sultan Murad IV. Sultan Ahmed I menyelubungi Ka’bah dengan sutra bersulam emas. Setiap tahun, lebih dari 400.000 keping emas dikeluarkan untuk urusan haji melebihi dana perang besar.
Sementara para sultan tetap di istana, rambut mereka yang dipotong dan diberi dupa dikirim ke Madinah dan dikuburkan di dekat makam Nabi Muhammad simbol kehadiran mereka di tanah suci tanpa harus menjejakkan kaki.kutip Turkey To Day.
Kisah ini bukan sekadar tentang ibadah, tapi tentang bagaimana ibadah haji menjadi alat legitimasi kekuasaan, sumber kebanggaan, dan juga mimpi buruk diplomatik yang berdarah.
Baca Juga: Mendagri Tito Maknai Iduladha sebagai Momentum Pengorbanan untuk Bangsa










