TVRINews - Jakarta
Kapal induk pertama Indonesia dioptimalkan untuk respons cepat kebencanaan dan pertahanan maritim nasional.
Indonesia secara resmi memperkuat postur pertahanan maritimnya melalui kehadiran kapal induk perdana, KRI Sriwijaya-100. Di luar fungsi strategisnya sebagai penjaga kedaulatan perairan Nusantara, armada baru ini dipersiapkan mengemban misi ganda, yakni sebagai lini depan penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan di wilayah kepulauan yang rentan.
Langkah transformatif ini merujuk pada arahan strategis Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Terbatas. Kepala Negara menginstruksikan agar desain kapal induk tersebut diintegrasikan dengan kapabilitas pendaratan helikopter serta pengoperasian wahana tanpa awak atau drone. Penyesuaian ini ditujukan untuk memaksimalkan efektivitas Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menjelaskan bahwa modernisasi alat utama sistem pertahanan harus selaras dengan karakteristik geografis Indonesia yang luas dan majemuk. Menurutnya, respons cepat terhadap keadaan darurat merupakan kebutuhan mutlak bagi negara kepulauan.

(Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, saat menjelaskan alat utama sistem pertahanan. (Foto: Bakom RI))
"Kemampuan tersebut diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang, khususnya penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan," ujar Qodari dalam keterangan resminya yang dikutip Selasa 29 September 2026.
Qodari menambahkan, pengoperasian KRI Sriwijaya-100 melampaui kerangka peningkatan alutsista semata. Kehadiran kapal ini mencerminkan komitmen negara dalam membangun kemandirian pertahanan sekaligus kesiapsiagaan melindungi keselamatan warga negara dari berbagai ancaman multidimensional.
Sebagai negara yang berada di jalur rawan bencana alam mulai dari gempa bumi, letusan gunung berapi, hingga hidrometeorologi tantangan terbesar Indonesia kerap kali terletak pada aspek distribusi logistik dan evakuasi darurat. Ketika infrastruktur darat seperti jalan raya, jembatan, maupun pelabuhan konvensional lumpuh akibat bencana, mobilitas maritim menjadi tumpuan utama.
"Dalam situasi darurat, tantangannya bukan sekadar menyediakan logistik, melainkan bagaimana bantuan, personel, dan kebutuhan pokok dapat segera tiba di lokasi terdampak ketika infrastruktur darat terputus. Di sinilah KRI Sriwijaya-100 menghadirkan solusi nyata," kata Qodari menguraikan.
Melalui fasilitas dek penerbangan yang mendukung helikopter dan helipad terapung, kapal ini diproyeksikan mampu menembus wilayah terisolasi yang sulit dijangkau melalui sarana transportasi darat. Pendekatan ini menegaskan doktrin pertahanan Indonesia yang menempatkan keselamatan rakyat sebagai hukum tertinggi, di mana kekuatan militer tidak hanya disiagakan untuk menangkal potensi agresi militer, tetapi juga hadir secara aktif dalam kerja-kerja kemanusiaan internasional maupun nasional.
"Kehadiran KRI Sriwijaya-100 tidak hanya memperlihatkan perluasan kapabilitas pertahanan maritim, tetapi juga memperkuat kapasitas negara dalam merespons krisis kemanusiaan secara cepat dan tepat sasaran," pungkasnya.










