TVRINews, Nusa Tenggara Timur
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus memantau penanganan dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Mbay-Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), 15 Agustus 2026.
Pemantauan difokuskan pada kondisi aktivitas dan ekosistem pariwisata di wilayah terdampak melalui Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), unit pelaksana teknis di bawah Kemenpar yang memiliki kewenangan mengelola kawasan otorita pariwisata Labuan Bajo-Flores.
Sejak gempa terjadi, BPOLBF melakukan pemantauan terhadap akomodasi, daya tarik wisata, fasilitas pariwisata, serta aksesibilitas. Verifikasi lapangan dilakukan secara berkala ke hotel, restoran, dan destinasi wisata.
BPOLBF juga mengoperasikan hotline informasi pariwisata bagi wisatawan dan pelaku usaha untuk memastikan informasi mengenai kondisi destinasi dapat diperoleh secara akurat.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi NTT per 18 Agustus 2026 pukul 9.00 WITA, sebanyak 69 orang meninggal dunia, 331 orang luka-luka, dan 34.689 orang mengungsi.
Sebanyak 19.297 unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan, terdiri atas 6.463 rumah rusak berat, 2.481 rumah rusak sedang, dan 12.006 rumah rusak ringan.
Aktivitas gempa susulan juga masih berlangsung. BMKG mencatat 2.403 gempa susulan hingga 18 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB, termasuk 24 kejadian dengan magnitudo di atas 5.
Dampak signifikan tercatat di sejumlah wilayah, antara lain Kabupaten Manggarai dengan 26 orang meninggal dunia dan Manggarai Timur dengan 25 orang meninggal dunia. Kabupaten Nagekeo menjadi salah satu wilayah yang terdampak langsung karena berada di sekitar pusat gempa.
Di tengah penanganan bencana, aktivitas pariwisata di sejumlah destinasi utama, khususnya Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo, mulai berangsur normal.
Berdasarkan pemantauan BPOLBF, Pelabuhan Marina Labuan Bajo telah kembali beroperasi normal dan akses pelayaran menuju Taman Nasional Komodo telah dibuka.
Aktivitas wisata di Pulau Padar, Loh Liang di Pulau Komodo, Loh Buaya di Pulau Rinca, dan Gili Lawa juga kembali berjalan normal. Jumlah kunjungan wisatawan di kawasan tersebut tercatat lebih dari 2.000 orang per hari pada 17 Agustus 2026.
Sejumlah destinasi lain, seperti Pulau Kelor dan Kampung Adat Todo di Manggarai, juga tetap beroperasi. Destinasi Batu Cermin kembali dibuka sejak 16 Agustus 2026.
Dari sisi akomodasi di Manggarai Barat, mayoritas hotel besar, antara lain Ayana, Crowne Plaza, Sudamala, Ta'aktana Marriott, dan Meruorah, dilaporkan dalam kondisi aman dengan kerusakan ringan. Pasokan listrik dan jaringan internet juga telah kembali normal.
Namun, Hotel Jayakarta mengalami kerusakan struktural berat sehingga ditutup sementara. Seluruh tamu telah dievakuasi dan mendapat penanganan dari pihak hotel.
Sejumlah destinasi masih ditutup sebagai langkah kehati-hatian untuk memastikan keselamatan wisatawan. Destinasi tersebut antara lain Wae Rebo dan Ruteng Pu'u di Manggarai, Taman Nasional Kelimutu di Ende akibat longsoran dinding kawah, serta Taman Wisata Alam Laut Gugus Pulau Teluk Maumere di Sikka.
Beberapa kawasan wisata di Kabupaten Ngada dan Nagekeo juga masih menghadapi kendala jaringan komunikasi dan pasokan listrik.
Penyesuaian juga masih dilakukan pada sektor penerbangan. Bandara Ende membatalkan seluruh penerbangan hingga 20 Agustus 2026, sedangkan Bandara Frans Sales Lega Ruteng membatalkan penerbangan Wings Air hingga 22 Agustus 2026.
Sementara, Bandara Komodo Labuan Bajo, Bandara Frans Seda Maumere, dan Bandara Gewayantana Larantuka tetap beroperasi dengan sejumlah penyesuaian jadwal penerbangan.
Untuk membantu wisatawan dan pelaku usaha memperoleh informasi terkini, BPOLBF membuka hotline informasi pariwisata di nomor 0811-3879-4555. Layanan tersebut menyediakan informasi mengenai kondisi destinasi, aksesibilitas, dan akomodasi pascagempa.
Sejumlah wisatawan mancanegara asal Italia, Jerman, dan Prancis juga telah memanfaatkan layanan tersebut untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi destinasi dan aktivitas wisata di Labuan Bajo.
Kemenpar bersama BPOLBF, pemerintah daerah, dan instansi terkait terus melakukan pendataan serta verifikasi kerusakan akomodasi, daya tarik wisata, dan fasilitas pendukung pariwisata di wilayah terdampak.
Koordinasi dilakukan bersama Kementerian Perhubungan dan AirNav untuk mendukung pemulihan operasional bandara melalui skema Get Airport Ready for Disaster (GARD).
Kemenpar mengimbau wisatawan yang berencana bepergian ke Flores untuk mengutamakan keselamatan, memantau informasi dari sumber resmi, serta menghubungi BPOLBF sebelum melakukan perjalanan.
Langkah tersebut dinilai penting karena aktivitas gempa susulan masih berlangsung di sejumlah wilayah. Pemerintah juga memastikan pemulihan sektor pariwisata tetap mengutamakan keselamatan wisatawan dan masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan aktivitas ekonomi masyarakat di NTT.










