TVRINews - Tasikmalaya
Kesejahteraan petani kini bergantung pada integrasi rantai pasok dan kepastian serapan pasar di tengah momentum kemerdekaan nasional.
Keberhasilan peningkatan produksi padi menjadi momentum penting dalam memperkuat sektor pertanian sekaligus menjadi kado kemerdekaan Indonesia ke-81. Namun, peningkatan produksi dinilai harus diikuti dengan kepastian pasar agar hasil panen petani tidak justru berujung pada kerugian.
Para pengamat dan akademisi mengingatkan bahwa narasi peningkatan hasil panen akan kehilangan esensinya jika tidak dibarengi dengan jaminan penyerapan produk. Tanpa kebijakan hilirisasi dan manajemen pasar yang presisi, lonjakan produksi justru berisiko menekan harga hingga di bawah modal petani, yang pada akhirnya memicu kerugian ekonomi bagi produsen pangan.
Ketua Umum Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Indonesia (KASAI), Prof. Achmad Tjachja Nugraha, mengatakan pembangunan pertanian dalam mengisi kemerdekaan harus dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya mendorong produktivitas, tetapi juga memastikan hasil produksi terserap pasar serta memperkuat aspek pendidikan dan pengembangan sektor pertanian
Prof. Achmad Tjachja Nugraha, Guru Besar Ekonomi Pertanian dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, menekankan bahwa paradigma pembangunan pertanian harus bergeser dari sekadar pengejaran volume produksi menuju penguatan daya serap pasar.

(Ketua Umum Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Indonesia (KASAI), Prof. Achmad Tjachja Nugraha (Foto: KASAI))
"Petani tidak hanya membutuhkan dukungan untuk berproduksi. Mereka menuntut kepastian bahwa hasil jerih payah mereka memiliki jalur distribusi yang jelas dengan harga yang memberikan keuntungan wajar," ujar Prof. Achmad saat ditemui di Tasikmalaya, Jawa Barat, baru-baru ini.
Menurut Prof. Achmad, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Indonesia (KASAI), kerentanan petani terletak pada ketidakpastian biaya produksi yang dikeluarkan jauh sebelum pasar terbentuk. Ia mendesak pemerintah untuk bertindak lebih adaptif dalam memetakan kebutuhan pasar sebelum masa tanam dimulai, bukan sekadar bereaksi saat komoditas menumpuk di sentra-sentra produksi.
Membangun Ekosistem Kemitraan
Strategi yang ditawarkan mencakup penguatan kemitraan antara petani dengan pelaku industri (offtaker) dan koperasi yang transparan. Integrasi ini dianggap penting agar petani tidak lagi beroperasi dalam ketidakpastian informasi.
Lebih jauh, ia mendorong pemerintah untuk memperluas akses perdagangan, baik antardaerah maupun ekspor, guna mencegah kelebihan pasokan di wilayah tertentu. Penguatan infrastruktur pascapanen, termasuk teknologi penyimpanan dan rantai dingin (cold chain), dipandang sebagai prasyarat mutlak untuk efisiensi distribusi dari hulu ke hilir.
Dalam pandangan Prof. Achmad, teknologi digital harus dimanfaatkan sebagai jembatan informasi harga dan permintaan pasar secara real-time. Dengan data yang akurat, petani dapat membuat keputusan tanam yang lebih rasional dan terukur.
"Ukuran keberhasilan pembangunan pertanian bukan hanya pada angka produksi. Kita harus melihat apakah produk tersebut terserap pasar dan mampu memberikan pendapatan layak bagi petani," tambahnya.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa kesejahteraan petani adalah esensi dari kemerdekaan ekonomi yang sesungguhnya. Pemerintah ditantang untuk tidak sekadar bertanya mengenai kapasitas produksi, melainkan memastikan ekosistem perdagangan yang mampu menyerap hasil tani sebagai peluang kesejahteraan, bukan beban yang berujung pada kerugian.










