TVRINews, Tapanuli Utara
Badan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba guna menjaga ketersediaan air sekaligus mengantisipasi musim kemarau 2026. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung hingga awal Mei 2026.
Pelaksanaan OMC merupakan kolaborasi antara BMKG, Perum Jasa Tirta I, dan PT Indonesia Asahan Aluminium dalam mendukung pengelolaan sumber daya air di kawasan Danau Toba.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa penguatan operasi modifikasi cuaca menjadi perhatian pemerintah, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Instruksi Presiden sangat jelas, BMKG harus diperkuat, terutama dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Saat ini kami sedang berproses,”kata Faisal dalam keterangan tertulis, Jumat, 1 Mei 2026.
Faisal menambahkan, penguatan infrastruktur seperti radar cuaca menjadi kunci untuk meningkatkan akurasi analisis kondisi atmosfer sebelum pelaksanaan OMC. Hal ini penting di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.
Ia menjelaskan, Indonesia berpotensi menghadapi fenomena El Niño yang dapat memicu musim kemarau datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, serta curah hujan di bawah normal.
“OMC akan terus ditingkatkan frekuensinya untuk menjaga debit bendungan dan mencegah kebakaran hutan dan lahan. BMKG siap memberikan dukungan penuh dalam pengelolaan air,”jelasnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menyebutkan bahwa operasi di DTA Danau Toba berlangsung selama 25 hari sejak 9 April hingga sekitar 3 Mei 2026. Hingga 29 April, kegiatan telah berjalan selama 21 hari dengan 33 sorti penyemaian awan.
“Masih ada sekitar empat hari pelaksanaan untuk mengoptimalkan capaian operasi,”ungkap Tri.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menambahkan capaian operasi telah mencapai sekitar 86,78 persen dari target 50 jam terbang.
“Dengan capaian tersebut, masih tersedia sekitar enam jam waktu terbang yang akan dimaksimalkan hingga akhir operasi,”ujar Budi.
Di sisi lain, Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, Fahmi Hidayat, mengapresiasi dukungan BMKG dalam menjaga ketersediaan air di wilayah Sungai Toba–Asahan.
“Dukungan OMC sangat membantu dalam memastikan ketersediaan air untuk pembangkit listrik, irigasi, hingga kebutuhan domestik dan industri,”ujar Fahmi.
Ia berharap ke depan pelaksanaan OMC dapat dilakukan lebih rutin dan dimanfaatkan lebih luas, termasuk untuk penanggulangan kekeringan dan banjir.
Evaluasi BMKG sebelumnya di Posko OMC Siborong-borong pada 23 April 2026 menunjukkan peningkatan curah hujan di wilayah DTA Danau Toba, khususnya di bagian timur dan tenggara, termasuk Pulau Samosir. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya inflow serta tinggi muka air danau.
BMKG juga memastikan bahwa pelaksanaan OMC tidak berkaitan dengan kejadian bencana seperti banjir dan longsor di wilayah tersebut.
Melalui upaya ini, BMKG berharap ketersediaan air di kawasan Danau Toba tetap terjaga dan mampu mendukung berbagai sektor yang bergantung pada sumber daya air di tengah dinamika iklim yang semakin kompleks.










