TVRINews, Jakarta
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat pengembangan teknologi untuk mendukung kemandirian Indonesia di sektor energi dan kesehatan. Sejumlah inovasi yang dikembangkan meliputi konversi biogas menjadi bahan bakar tabung, riset vaksin malaria, hingga pengembangan obat herbal menuju fitofarmaka.
Kepala BRIN Arif Satria menegaskan, riset harus diarahkan untuk menghasilkan teknologi yang dapat diterapkan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Pengembangan inovasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah Metal Organic Framework (MOF), yakni material yang berpotensi meningkatkan kemampuan penyimpanan gas. Teknologi ini dinilai dapat mendukung pengembangan biogas agar lebih mudah disimpan dan dimanfaatkan sebagai alternatif energi.
“Pengembangan biogas tidak cukup hanya menghasilkan gas, tetapi juga harus menjawab persoalan penyimpanan dan pemanfaatannya. Kami memperkenalkan teknologi MOF yang berpotensi menyimpan gas dalam jumlah lebih besar sehingga dapat mendukung pengembangan biogas menjadi energi alternatif,” ujar Kepala BRIN Arif Satria dalam keterangannya, Selasa, 27 Oktober 2026.
Pengembangan tersebut menjadi penting di tengah besarnya ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Dalam paparannya, Kepala BRIN menyebut nilai impor LPG mencapai sekitar Rp97 triliun per tahun. Pemanfaatan biogas yang didukung teknologi penyimpanan diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Selain sektor energi, BRIN juga mempercepat riset vaksin, khususnya vaksin malaria. Saat ini, BRIN mengembangkan empat kandidat vaksin, sementara secara nasional terdapat sekitar lima hingga enam kandidat yang tengah dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Kesehatan dan PT Bio Farma.
Arif menyampaikan bahwa percepatan riset vaksin menjadi perhatian Presiden. Dukungan pemerintah diharapkan dapat mempercepat tahapan pengembangan hingga tiga tahun dari jadwal yang sebelumnya direncanakan.
“Percepatan riset vaksin menjadi salah satu prioritas. Dengan dukungan pemerintah dan kolaborasi bersama berbagai pihak, kami berharap pengembangan kandidat vaksin dapat berjalan lebih cepat, terutama untuk menjawab kebutuhan penanganan malaria di Indonesia,” katanya.
Menurutnya, pengembangan vaksin yang sesuai dengan karakteristik parasit malaria di Indonesia juga berpotensi memberikan kontribusi bagi dunia. Pasalnya, sejumlah jenis parasit malaria masih menghadapi keterbatasan pilihan vaksin yang tersedia.
Di bidang farmasi, BRIN turut mengembangkan 19 kandidat obat herbal yang diarahkan untuk mencapai tingkat fitofarmaka. Sebagian produk masih berada pada tahap obat herbal terstandar sehingga memerlukan pengujian lebih lanjut, termasuk uji klinis, sebelum dapat memenuhi persyaratan fitofarmaka.
BRIN akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mendukung percepatan proses pengembangan sesuai ketentuan ilmiah dan regulasi yang berlaku.
Arif menekankan, potensi kekayaan hayati Indonesia perlu didukung penelitian yang kuat agar dapat menghasilkan produk kesehatan yang aman, teruji, dan memiliki manfaat nyata.
Melalui pengembangan biogas, vaksin, dan obat herbal, BRIN berupaya memperkuat ekosistem riset nasional agar hasil inovasi tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut bersama industri dan mitra terkait untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.










