TVRINews, Jakarta
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan 19 kandidat obat herbal untuk ditingkatkan menjadi fitofarmaka. Upaya ini dilakukan guna memperkuat kemandirian farmasi nasional sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia sebagai bahan baku obat.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, pengembangan obat herbal perlu didukung penelitian dan pengujian ilmiah agar produk yang dihasilkan memenuhi standar keamanan, mutu, serta khasiat sebelum digunakan masyarakat.
“Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan. Karena itu, riset obat herbal perlu terus diperkuat agar dapat menghasilkan produk yang teruji secara ilmiah dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Arif dalam keterangannya, Selasa, 27 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, sejumlah kandidat obat herbal yang dikembangkan BRIN masih berada pada tahap obat herbal terstandar. Untuk mencapai tingkat fitofarmaka, produk tersebut harus melalui tahapan pengujian lebih lanjut, termasuk uji klinis, sesuai persyaratan yang berlaku.
BRIN akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) guna mendukung percepatan proses pengembangan dan pengujian kandidat obat herbal tersebut.
“Percepatan pengembangan harus tetap mengutamakan bukti ilmiah dan memenuhi ketentuan yang berlaku. Kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan BPOM agar proses pengujian dapat berjalan sesuai standar,” kata Arif.
Menurutnya, peningkatan status obat herbal menjadi fitofarmaka menjadi langkah penting untuk mendorong hasil riset dalam negeri agar memiliki landasan ilmiah yang kuat dan berpeluang dimanfaatkan lebih luas di sektor kesehatan.
Arif menegaskan, hasil penelitian tidak boleh berhenti pada tahap laboratorium atau pengembangan prototipe. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk industri, diperlukan agar inovasi yang dihasilkan dapat dikembangkan menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui pengembangan 19 kandidat obat herbal tersebut, BRIN berharap potensi tanaman obat Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal sekaligus mendukung penguatan industri farmasi dan kemandirian obat nasional.










