TVRINews, Madinah
Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, meninjau kesiapan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah menjelang kedatangan jemaah haji gelombang kedua dari Makkah, Kamis, 4 Juni 2026.
Dalam kunjungannya, Menhaj menilai layanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia secara umum telah berjalan baik. Meski demikian, pemerintah menilai perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan kesehatan haji agar lebih efektif dan mampu menyesuaikan perkembangan regulasi di Arab Saudi.
“Hari ini kami melihat langsung kesiapan KKHI Madinah untuk menyambut jemaah dari Makkah. Secara umum sudah siap, tetapi pola pelayanan kesehatan ke depan perlu dievaluasi agar lebih adaptif terhadap tantangan yang ada,” ujar Irfan Yusuf dalam keterangan tertulis, Jumat, 5 Juni 2026.
Menurutnya, fasilitas kesehatan yang dimiliki KKHI cukup besar, namun pemanfaatannya perlu dikaji kembali agar lebih optimal dan tepat sasaran. Evaluasi tersebut akan menjadi bahan pembahasan pemerintah setelah penyelenggaraan ibadah haji tahun ini selesai.
Ia juga menyoroti perubahan regulasi kesehatan di Arab Saudi yang terus berkembang setiap tahun. Karena itu, sistem layanan kesehatan haji Indonesia dinilai harus terus menyesuaikan diri agar tetap sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Regulasi di Arab Saudi terus berubah. Kita tidak bisa menggunakan pola pelayanan yang sama setiap tahun tanpa penyesuaian,”ucapnya.
Selain aspek layanan, kebutuhan tenaga kesehatan juga menjadi perhatian pemerintah. Dengan jumlah jemaah Indonesia yang mencapai lebih dari 200 ribu orang setiap musim haji, diperlukan perencanaan tenaga medis yang matang untuk memastikan pelayanan berjalan optimal.
Menhaj menegaskan peningkatan kualitas layanan kesehatan harus sejalan dengan penerapan prinsip istitha’ah kesehatan atau kemampuan kesehatan jemaah sebelum berangkat haji.
Tahun ini, tercatat sebanyak 345 calon jemaah haji tidak diberangkatkan karena tidak memenuhi syarat kesehatan.
“Prinsip istitha’ah harus tetap ditegakkan demi keselamatan jemaah. Namun, kualitas layanan kesehatan bagi jemaah yang berangkat juga harus terus diperkuat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan PPIH Daerah Kerja Madinah, dr. Enny Nuryanti, menjelaskan KKHI Madinah beroperasi selama 24 jam untuk melayani kebutuhan kesehatan jemaah Indonesia.
Menurutnya, kasus yang paling banyak ditangani selama musim haji adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan hipertensi.
Selain layanan di KKHI, pemerintah juga menyiagakan lima klinik satelit di sejumlah sektor wilayah Madinah untuk melayani jemaah yang tinggal di hotel sekitar Masjid Nabawi.
Seluruh layanan tersebut didukung tenaga dokter, perawat, tenaga farmasi, laboratorium, hingga sanitasi yang bersiaga selama musim haji berlangsung.
Enny menambahkan, KKHI memberikan pelayanan rawat jalan, sementara jemaah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut atau kondisi darurat akan dirujuk ke rumah sakit di Arab Saudi.
Menjelang kedatangan jemaah gelombang kedua dari Makkah ke Madinah, pemerintah memastikan penguatan layanan kesehatan dilakukan, terutama bagi jemaah yang baru menyelesaikan rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
“Jemaah yang baru menyelesaikan fase Armuzna menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian lebih. Karena itu kesiapan layanan kesehatan harus tetap terjaga hingga mereka kembali ke Tanah Air,”pungkasnya.










