TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus menekankan tekait dengan pentingnya transformasi perguruan tinggi agar mampu menjadi penggerak inovasi dan pembangunan nasional dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Hal tersebut, diungkapkan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto.
Pada kesempatan tersebut, ia menuturkan jika Indonesia yang memiliki cita-cita menjadi negara maju ini tidak cukup ditopang oleh kekayaan sumber daya alam. Namun, lanjutnya dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, ekosistem riset yang kuat, serta inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Indonesia bercita-cita menjadi negara yang bersatu, berdaulat, maju, dan berkelanjutan pada tahun 2045. Untuk mewujudkan visi tersebut, dibutuhkan lebih dari sekadar sumber daya alam yang melimpah. Kita memerlukan pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia yang unggul,” ujar Brian pada Jumat, 26 Juni 2026.
Lebih lanjut, ia menilai jika berbagai tantangan global, mulai dari perubahan iklim, transformasi digital, ketahanan pangan, energi, kesehatan, hingga pengelolaan mineral kritis, justru menjadi peluang bagi perguruan tinggi Indonesia untuk menghasilkan solusi berbasis riset dan teknologi.
Selain itu, ia menegaskan jika kualitas perguruan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akreditasi, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan lulusan yang kompeten, riset yang berdampak, tata kelola yang baik, serta inovasi yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.
Lantaran hal tersebut, ia mendorong perguruan tinggi memperkuat kolaborasi dengan dunia industri, pemerintah, dan masyarakat agar hasil penelitian dapat diimplementasikan secara nyata dan menjawab kebutuhan pembangunan nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Brian juga memaparkan arah transformasi pendidikan tinggi yang tengah didorong pemerintah. Perguruan tinggi diharapkan berkembang dari institusi yang berfokus pada pengajaran (teaching university), menjadi pusat riset (research university), kemudian berkembang menjadi entrepreneurial university.
Namun, menurutnya, tahapan tersebut perlu dilanjutkan menuju konsep transformational university, yakni perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
“Setiap tahap tersebut penting. Saya percaya kita harus melangkah satu tahap lebih jauh. Kita membutuhkan transformational university yang tidak hanya dibentuk oleh kualitas pengajaran, penelitian, dan inovasi, tetapi juga oleh dampak yang diciptakan,” ujarnya.
Brian menegaskan semangat Diktisaintek Berdampak menjadi landasan agar seluruh aktivitas pendidikan tinggi, sains, dan teknologi mampu menghasilkan manfaat nyata, baik melalui riset, inovasi, teknologi, maupun kebijakan yang mendukung pembangunan nasional.










