TVRINews - Jakarta
Jarum jam baru menunjukkan pukul 02.00 WIB ketika alarm di gawai milik Permana (30) berdering nyaring. Di tengah udara malam Jakarta yang dingin, pekerja swasta di kawasan Senayan ini bergegas membasuh muka. Alih-alih melanjutkan tidur, beberapa menit kemudian ia sudah duduk tegak di depan layar kaca dengan secangkir kopi hitam hangat di tangan.
Bagi Permana, dan mungkin jutaan warga Indonesia lainnya, ritme hidup dalam sebulan terakhir ini telah berubah total. Gelaran Piala Dunia 2026 yang berlangsung di benua Amerika telah menciptakan sebuah "rutinitas baru" yang menggeser jam biologis kaum urban. Demi menyaksikan negara jagoannya berlaga, waktu tidur yang biasanya teratur terpaksa dipangkas atau digeser secara sukarela. TVRI sebagai Rumah Sepakbola Dunia untuk Indonesia, menyiarkan seluruh pertandingan Piala Dunia.
"Biasanya jam 9 atau 10 malam saya sudah tidur lelap demi menjaga stamina kerja besoknya. Sekarang? Saya bela-belain pasang alarm subuh, atau kalau pertandingannya tengah malam, sengaja begadang sekalian. Pola tidur memang agak berantakan, tapi mengantuknya langsung hilang begitu peluit kick-off ditiup," kata Permana sambil tertawa saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta.
Fenomena pergeseran aktivitas ini tidak berhenti di dalam kamar tidur saja. Ketika fajar menyingsing dan para pekerja mulai memadati kawasan bisnis Sudirman-Senayan, sisa-sisa keseruan laga dini hari tadi langsung terbawa ke ruang-ruang kerja dan koridor kantor.
Aroma kopi yang menyengat di pantry kantor kini tidak lagi ditemani oleh keluh kesah tenggat waktu pekerjaan atau kemacetan jalanan Jakarta. Obrolan pagi telah berganti rupa menjadi ruang diskusi taktik sepak bola yang hangat, seru, dan penuh canda tawa.
Hal senada dirasakan oleh Febriyan (33), seorang karyawan yang berkantor tidak jauh dari Stadion Utama Gelora Bung Karno. Menurutnya, Piala Dunia bulan ini berhasil mencairkan kekakuan suasana kerja yang biasanya monoton.
"Piala Dunia bulan ini benar-benar bikin rutinitas baru yang seru di kantor. Sekarang, begitu sampai kubikal atau pas istirahat siang, obrolan utama di grup WhatsApp atau saat makan siang bukan lagi soal proyek, tapi tebak skor dan bahas hattrick atau gol indah dini hari tadi.
Malah jadi ada alasan buat ngumpul dan bercanda lagi sama teman-teman lintas divisi setelah berbulan-bulan sibuk sendiri," ungkap Febriyan.
Demam "rutinitas baru" ini tidak hanya melanda para pekerja kantoran, tetapi juga merambah ke kalangan mahasiswa di kampus-kampus dan lingkungan perumahan. Istilah nobar (nonton bareng) kembali menjadi agenda wajib harian. Teras-teras rumah, pos ronda, hingga kedai kopi lokal kini bertransformasi menjadi stadion mini dadakan tempat masyarakat melepas penat.
Di balik mata yang sedikit sayu karena kurang tidur, ada binar kebahagiaan dan kebersamaan yang kembali hidup. Piala Dunia 2026 bukan lagi sekadar urusan menang atau kalah di atas lapangan hijau, melainkan sebuah perekat sosial yang berhasil mempertemukan kembali orang-orang di tengah kesibukan hidup yang padat.
Bulan ini, Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia sepakat untuk sedikit merelakan waktu istirahat mereka. Sebab mereka tahu, kebersamaan dan kegembiraan magis empat tahunan ini terlalu berharga untuk dilewatkan dalam lelap tidur.










